• Home
  • Game
  • Resident Evil Berlatar Jepang? Capcom Mulai Buka Kemungkinan untuk Seri Selanjutnya?
Resident Evil Berlatar Jepang? Capcom Mulai Buka Kemungkinan untuk Seri selanjutnya

Resident Evil Berlatar Jepang? Capcom Mulai Buka Kemungkinan untuk Seri Selanjutnya?

SHARE ARTIKEL INI

Bagaimana jadinya kalau wabah biohazard ala Resident Evil tidak lagi terjadi di kota Amerika, desa Eropa, atau rumah tua terpencil, melainkan di Jepang?

Pertanyaan itu ternyata bukan cuma muncul dari fans. Di balik layar, ide tersebut juga pernah dipikirkan oleh tim pengembang Resident Evil sendiri. Hal ini terungkap lewat komentar Masato Kumazawa, produser Resident Evil Requiem, yang menyinggung kemungkinan Jepang menjadi latar untuk seri Resident Evil di masa depan.

Belum ada pengumuman resmi dari Capcom soal game Resident Evil dengan setting Jepang. Namun, komentar Kumazawa cukup menarik karena selama ini franchise tersebut justru belum pernah benar-benar menjadikan negara asal Capcom sebagai panggung utama ceritanya.

Jepang Jadi Setting yang Masuk Akal untuk Resident Evil

Selama 30 tahun perjalanan Resident Evil, Capcom sudah membawa pemain ke berbagai lokasi dengan nuansa horor yang berbeda. Raccoon City menjadi ikon awal yang sulit dilupakan, sementara seri-seri berikutnya mulai memperluas cakupan cerita ke tempat lain seperti Louisiana, pedesaan Spanyol, hingga wilayah bernuansa Eropa Timur.

Dari sini, Jepang terasa seperti pilihan yang cukup natural untuk dieksplorasi. Bukan hanya karena Capcom berasal dari sana, tetapi juga karena tim developer Resident Evil sebagian besar berbasis di Jepang.

Kumazawa sendiri menyebut bahwa setting Jepang adalah ide yang mungkin pernah terlintas di benak banyak fans Jepang. Ia juga mengaku pernah memikirkan hal serupa. Menurutnya, karena tim pengembang berada di Jepang, besar kemungkinan hampir semua anggota tim pernah membayangkan kemungkinan tersebut.

Pernyataannya memang belum mengarah ke konfirmasi, tetapi setidaknya menunjukkan bahwa ide ini bukan sesuatu yang asing bagi Capcom.

Bukan Sekadar Ganti Lokasi

Menariknya, jika Resident Evil benar-benar mengambil latar Jepang, dampaknya bisa lebih besar dari sekadar mengganti pemandangan. Lokasi dalam seri ini hampir selalu punya peran penting dalam membangun rasa takut.

Resident Evil 7 terasa mencekam karena memanfaatkan rumah keluarga Baker yang sempit dan penuh tekanan. Resident Evil 4 kuat karena menghadirkan rasa asing di desa terpencil. Sementara Resident Evil Village menggunakan atmosfer gothic untuk membuat dunia gamenya terasa seperti mimpi buruk yang panjang.

Dengan Jepang, Capcom bisa membuka ruang horor yang berbeda. Seri ini bisa saja bermain dengan kontras antara kota modern, desa sunyi, fasilitas penelitian rahasia, atau wilayah terpencil yang menyimpan ancaman bio-organik. Semua itu tetap bisa masuk ke formula Resident Evil tanpa harus meninggalkan identitas utamanya.

Peluang untuk Wajah Baru di Franchise Lama

Setting baru juga bisa menjadi pintu masuk untuk karakter baru. Selama ini, Resident Evil memang punya banyak nama besar seperti Leon, Jill, Claire, Ada, dan Chris. Namun Capcom juga pernah membuktikan bahwa karakter baru tetap bisa membawa seri ini ke arah yang segar.

Ethan Winters menjadi contoh paling jelas. Ia bukan karakter klasik, tetapi mampu menjadi pusat cerita untuk dua game utama. Setelah itu, Resident Evil Requiem juga memperkenalkan Grace Ashcroft sebagai karakter baru, sambil tetap mempertahankan koneksi dengan elemen lama yang sudah dikenal fans.

Karena itu, jika Jepang suatu saat dipilih sebagai latar utama, Capcom punya dua opsi menarik. Mereka bisa membawa karakter veteran ke wilayah baru, atau menjadikan setting tersebut sebagai awal bagi protagonis yang benar-benar berbeda.

Capcom Belum Mengunci Arah Berikutnya

Untuk saat ini, fans tetap perlu menahan ekspektasi. Komentar Kumazawa hanya membuka kemungkinan, bukan memastikan bahwa proyek tersebut sedang dikerjakan.

Namun, ide ini tetap terasa menarik karena Resident Evil selalu berkembang lewat keberanian mencoba suasana baru. Setiap lokasi besar dalam franchise ini punya identitas horornya masing-masing, dan Jepang jelas punya potensi besar untuk menjadi panggung yang kuat.

Apalagi setelah franchise horror lain seperti Silent Hill mulai mengeksplorasi Jepang sebagai setting utama, pembicaraan soal Resident Evil berlatar Jepang terasa semakin relevan.

Pada akhirnya, semua masih bergantung pada arah yang dipilih Capcom. Namun jika suatu hari wabah biohazard benar-benar dibawa ke Jepang, itu bisa menjadi salah satu perubahan paling menarik dalam sejarah panjang Resident Evil.

Previous
Era Baru Tekken Dimulai, Kohei Ikeda Resmi Tutup Perjalanan 20 Tahun di Bandai Namco
Next
Sony Lanjut Bersih-Bersih PlayStation Store, Publisher Webnetic Isyaratkan Game Mereka Akan Segera Hilang

OUR SOCIAL MEDIA

Featured Article

LATEST ARTICLE

thumbnail2
Disambut Positif di Luar Negeri, Game Lokal RUNNING TRAIN Malah Dibajak di Negeri Sendiri
thumbnail2
Project GT Dipertanyakan Komunitas, Identitas Studio dan Rekam Jejak Tim Belum Jelas
thumbnail2
Project GT, Game “Waifu Mobil” dari Tim Berpengalaman di miHoYo hingga Tencent, Tembus Target Kickstarter
thumbnail2
Kakao Games Siapkan Produk Budaya Tradisional untuk The World of Goblins, MMORPG Joseon Fantasy dari Supercat
thumbnail2
Evie Stellar Blade: BLOOD RAIN Dianggap Terlalu Muda, Shift Up: Main Dulu Baru Nilai

TRENDING ARTICLE

thumbnail2
Kong Studios Umumkan Guardian Maiden, RPG Pixel Art Baru dari Developer Guardian Tales
thumbnail2
Limbus Company Bahasa Indonesia Kini Tersedia Lewat Fansub Komunitas
thumbnail2
Project GT, Game “Waifu Mobil” dari Tim Berpengalaman di miHoYo hingga Tencent, Tembus Target Kickstarter
thumbnail2
HoYoverse Menang Kasus Fitnah di China, Content Creator Dihukum Bayar Rp1,33 Miliar dan Minta Maaf Publik
thumbnail2
Tier List Star Savior Indonesia Terbaru (PvE, PvP & Arcana)
thumbnail2
thumbnail2
thumbnail2
thumbnail2
thumbnail2
thumbnail2