Coffee Talk Tokyo adalah spin-off dari seri Coffee Talk besutan Toge Productions. Setelah dua episode sebelumnya membawa kita ke Seattle, Amerika Serikat, kini game ini beralih ke Tokyo, Jepang. Apakah perpindahan latar ini berhasil memberikan nuansa baru yang menyegarkan? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini!
Tema & Latar Belakang: Menjadi Teman Curhat, Bukan Sekadar Barista
Sebelum masuk ke game, sedikit cerita latar belakang saya yang ternyata cukup relate dengan game ini. Saya pernah bekerja sebagai barista selama 6 bulan, di mana 2 bulan di antaranya di Starbucks sebelum akhirnya harus berhenti karena pandemi COVID-19. Awalnya, saya sama sekali tidak tertarik memainkan seri ini karena rasanya seperti bekerja lagi.
Namun, kafe di game ini punya dinamika yang berbeda. Jika di Starbucks tugas utamanya murni meracik minuman, di Coffee Talk kita berperan sebagai pemilik kedai kopi yang juga menjadi teman curhat para pelanggannya. Di Tokyo, kafe kita akan kedatangan pelanggan dari berbagai ras fantasi, mulai dari naga, kappa, android, hingga beastmen yang ceritanya akan kita ikuti.
Performa & Visual: Konsisten, Mulus, dan Hemat Daya
Seperti biasa, saya mereview game ini menggunakan Steam Deck. Meskipun saat memainkannya game ini belum berstatus Steam Deck Verified (karena masih sangat baru), performanya berjalan sangat lancar tanpa kendala.
Dengan pengaturan default Steam Deck, game ini hanya memakan daya 5 watt dan bisa dimainkan hingga 5 jam nonstop. Dari segi visual, game ini mengusung grafis yang cukup minimalis. Meskipun minimalis, art style yang dihadirkan sangat menawan dan punya ciri khas yang kuat. Desain karakternya dipikirkan dengan sangat matang, membuat setiap karakternya terlihat berkesan dan mudah diingat.
Storyline & Gameplay: Cerita yang Dalam dan Menenangkan
Ini adalah game Coffee Talk pertama yang saya mainkan (belum mencoba seri 1 maupun 2). Di awal permainan, ceritanya langsung dihubungkan dengan versi Seattle. Ini sempat membuat saya sedikit bingung dan merasa disconnect di awal karena belum tahu latar belakang hubungan antar karakternya, yang baru dijelaskan di pertengahan cerita.
Terlepas dari kebingungan awal tersebut, narasinya sangat luar biasa. Berbagai emosi tergambarkan dengan sangat apik mulai dari kisah anak kecil yang di-bully di sekolah, dilema kaum pendatang di Jepang, perbedaan budaya, hingga konflik antar ras. Hebatnya lagi, meski tanpa sulih suara (voice acting), setiap kalimatnya berhasil menyampaikan emosi yang begitu kuat.
Dari segi gameplay, game ini mengusung gaya point-and-click di mana kita lebih banyak mendengarkan cerita. Namun, jangan lupa bahwa kita adalah seorang barista sekaligus pemilik kedai. Kita tetap harus meracik minuman sesuai pesanan atau memberikan rekomendasi kepada para pelanggan.
Bagi saya yang memiliki pengalaman sebagai barista, resep-resep utamanya tidak terlalu rumit. Akan tetapi, pemain awam mungkin akan sedikit kewalahan. Selain itu, buku resep (Brewdia) baru akan terbuka setelah kita berhasil meracik minumannya, dan sayangnya tidak ada mode trial-and-error untuk mencoba-coba resep baru secara bebas (setidaknya saat saya memainkannya di mode campaign).
Kesimpulan
Coffee Talk Tokyo sangat cocok bagi Anda yang ingin menikmati kisah fantasi dari sudut pandang seorang barista di kedai kopi. Setiap karakternya memiliki cerita yang kuat dan saling berkaitan satu sama lain.
Game ini didukung dengan art style yang catchy, mekanik meracik minuman yang adiktif, serta performa yang sangat ringan dan mulus bahkan di perangkat berspesifikasi rendah. Dengan harga Rp130.000, Anda akan mendapatkan hiburan dan cerita berkualitas selama 9–10 jam permainan. Sangat worth it!













