Underboard Media — Perjalanan awal RUNNING TRAIN | 走ル列車! memperlihatkan dua sisi berbeda dari industri game Indonesia. Game simulasi kereta buatan solo developer asal Mojokerto ini mendapatkan respons positif dari pemain dan media luar negeri, tetapi salinan ilegalnya justru mulai beredar melalui marketplace Indonesia.
RUNNING TRAIN memasuki tahap Early Access di Steam pada 24 Mei 2026. Belum genap tiga minggu sejak perilisan, developernya mengaku telah menemukan banyak listing di Shopee yang menjual salinan game tersebut tanpa izin.
Produk-produk itu tidak berasal dari kanal distribusi resmi. Hasil penjualannya juga tidak diterima oleh developer yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun game tersebut.
Seperti Apa Game RUNNING TRAIN?
RUNNING TRAIN merupakan game simulasi mengemudikan kereta yang terinspirasi kuat dari seri Densha de GO!!. Pemain berperan sebagai masinis yang harus mengatur kecepatan, mengikuti jadwal, mematuhi sistem keselamatan, dan menghentikan kereta secara akurat di setiap stasiun.
Game ini menawarkan jalur kereta fiktif bernuansa Jepang dengan panjang lebih dari 40 kilometer. Pemain dapat menjalankan beberapa tipe kereta melalui layanan lokal maupun ekspres, sembari menikmati pemandangan pesisir dan pedesaan.
Tersedia pula pilihan suasana Sakura Spring dan Snowy Winter. Bagi pemain yang hanya ingin menikmati pemandangan, RUNNING TRAIN menyediakan Auto Mode agar kereta dapat berjalan tanpa dikendalikan secara manual.
Game ini juga mendukung kontroler khusus simulasi kereta seperti Zuiki Mascon dan DGOC, sehingga pengalaman mengemudinya bisa terasa lebih imersif.
Proyek Solo Developer dari Mojokerto

RUNNING TRAIN dikembangkan oleh Rizky Nova melalui Novatetsu Games. Proyek tersebut dikerjakan hampir seorang diri selama kurang lebih empat tahun setelah sang developer mempelajari Unreal Engine dan Blender secara otodidak.
Karena memilih jalur self-publishing, hampir seluruh kebutuhan perilisan juga ditangani sendiri, mulai dari pembuatan halaman Steam, trailer, artwork, deskripsi, lokalisasi, pembagian key kepada tester, pemasaran, hingga pengurusan badan hukum dan rekening bisnis.
Meskipun sudah melibatkan lebih dari 200 tester sebelum rilis, laporan bug tetap berdatangan pada minggu pertama. Sang developer harus mengerjakan berbagai patch hampir tanpa henti untuk memperbaiki masalah, termasuk beberapa game-breaking bug.
Tekanan selama masa perilisan bahkan membuatnya mengalami kekurangan tidur selama sekitar dua minggu dan terserang tifus pada akhir minggu pertama. Ia kini menyatakan kondisinya sudah pulih.
Mendapat Perhatian dari Jepang

Sebelum curhatan soal pembajakan dibagikan, RUNNING TRAIN sempat menarik perhatian pemain dan media Jepang. Automaton turut menyoroti game ini karena mampu menghadirkan suasana jalur kereta Jepang yang cukup meyakinkan, meskipun seluruh proyeknya berasal dari Indonesia.
Visual berbasis Unreal Engine 5, desain lintasan, dan pendekatan simulasinya bahkan sempat membuat sebagian pemain mengira RUNNING TRAIN dikembangkan oleh studio Jepang.
Namun, sambutan positif tersebut berbanding terbalik dengan situasi di dalam negeri. Sang developer justru menemukan banyak pihak memperjualbelikan salinan gamenya tanpa izin hanya beberapa hari setelah peluncuran.
Dibajak di Negeri Sendiri
Beredarnya versi bajakan tentu menjadi pukulan tambahan. Selain tidak memberikan dukungan finansial kepada developer, pembeli dari toko tidak resmi juga berisiko mendapatkan versi lama, file bermasalah, atau program berbahaya.
RUNNING TRAIN masih berada dalam tahap Early Access. Novatetsu Games masih berencana memperluas jalur, menghadirkan sudut pandang penumpang, serta menambahkan berbagai fitur lain menuju versi penuh.
Kisah ini memperlihatkan ironi yang cukup pahit. Ketika sebuah game lokal mulai mendapatkan apresiasi dari pemain luar negeri, hasil kerja developernya justru dibajak dan diperjualbelikan di negara asalnya sendiri.
Pemain yang ingin mencoba sekaligus mendukung pengembangnya dapat memperoleh RUNNING TRAIN melalui halaman Steam resmi berikut: