Tahun 2025 itu ibarat pedang bermata dua buat industri game mobile. Di satu sisi, banyak judul keren yang bikin kita betah grinding. Di sisi lain, tahun ini juga jadi “kuburan massal” buat game-game gacha yang rilisnya cuma bermodalkan ambisi tanpa persiapan matang.
Beberapa di antaranya datang dari IP raksasa, tapi nyatanya nama besar nggak menjamin umur panjang kalau manajemennya berantakan. Inilah 5 game gacha yang rilis di 2025 tapi langsung mengumumkan End of Service (EoS) alias tutup server!
Table of Contents
1. Tribe 9 – Terlalu Baik Malah Boncos?
Dibuat oleh Too Kyo Games (tim di balik Danganronpa), Tribe 9 rilis Februari 2025 dengan konsep baseball ekstrim yang sangat unik. Visualnya asyik, ceritanya gelap, tapi rilisnya kena review bomb di Steam karena sistem gachanya yang sangat kikir dan rate yang ampas.
Lucunya, developer langsung sigap memperbaiki segalanya. Mereka jadi sangat loyal: kasih banyak currency gratis dan memperbaiki rate. Tapi efeknya? Pendapatan mereka malah terjun bebas alias boncos. Hanya bertahan 4 bulan, mereka menyerah di bulan Mei dan bakal resmi tutup November 2025. Setidaknya, penulisnya janji bakal lanjutin ceritanya lewat blog atau novel.
- Nasib: Tutup 27 November 2025.
2. Dragon Nest: Rebirth of Legend – Korban Portingan Malas
Game ini sempat viral karena iklannya yang “nyolong” aset pesaingnya sendiri. Rebirth of Legend sebenarnya cuma portingan Dragon Nest yang dipaksain. Hasilnya? Penuh bug, kontrol kaku, dan sistem pay-to-win yang bikin dompet nangis.
Pukulan telaknya datang pas Dragon Nest Mobile Classic rilis sebulan kemudian. Pemain langsung pindah massal, server yang tadinya ratusan ciut jadi puluhan saja. Akhirnya, mereka kibarkan bendera putih.
- Nasib: Tutup Januari 2026.
3. Black Beacon – Masalah Internal yang Mematikan
Digarap oleh mantan staf Kuro Game, Black Beacon punya potensi besar sebagai game Action RPG yang solid. Sayangnya, peluncurannya dibarengi masalah teknis: black screen, error login, dan perbaikan yang lambatnya minta ampun.
Setelah bug diperbaiki, developer malah nggak kasih update konten sama sekali selama berbulan-bulan (deadpatch). Ternyata ada konflik internal di kantor mereka yang bikin server global harus dimatikan demi menyelamatkan operasional pusat.
- Nasib: Tutup 31 Desember 2025.
4. Rememnto: White Shadow – Rilis “Ghaib” Tanpa Marketing
Digadang sebagai penantang Honkai: Star Rail versi Korea dengan Unreal Engine 5, game ini malah jadi bencana optimisasi. HP panas, PC stuttering, bener-bener nggak playable.
Tapi yang paling aneh adalah rilis server globalnya. Nggak ada iklan, nggak ada pengumuman di sosmed, tiba-tiba muncul aja di store. Karena sepi peminat dan penuh masalah teknis, developer mutusin buat nutup server global untuk “maintenance jangka panjang” yang nggak jelas kapan selesainya.
- Nasib: Maintenance tanpa batas waktu (Soft EoS).
5. Goddess Order – Bangkrut Gara-Gara Kolaborasi?
Ini yang paling tragis. Diterbitkan oleh Kakao Games, Goddess Order punya visual pixel art yang sangat cantik, bahkan disebut penerus Guardian Tales. Pas rilis, mereka langsung tancap gas kolaborasi bareng Hololive.
Ternyata, biaya kolaborasi itu sangat mahal sementara pemasukan game-nya nggak sebanding. Akibatnya, keuangan studio langsung goyang. Nggak lama setelah kolab selesai, studionya dinyatakan bangkrut dan harus tutup total.
- Nasib: Tutup bertahap di 2026.
Pelajaran Buat Developer: Jangan Cuma Jualan Hype!
Kejadian di 2025 ini jadi peringatan keras kalau pemain gacha sekarang sudah makin pinter. Visual cantik atau kolaborasi besar nggak bakal nolong kalau gameplay-nya ngebosenin atau optimisasinya ampas. Kalau belum siap rilis, mending di-delay daripada rilis cuma buat jadi penghuni kuburan digital.