Underboard Media — Implementasi Indonesia Game Rating System atau IGRS di ekosistem game digital mulai menuai sorotan. Niat awal untuk melindungi pemain berdasarkan usia memang patut diapresiasi, apalagi dengan integrasi ke sistem global seperti IARC dan platform seperti Steam. Namun dalam praktiknya, sejumlah keputusan justru memunculkan kebingungan baru di kalangan komunitas.
Alih alih memberikan panduan yang jelas, sistem ini mulai dipertanyakan karena dianggap tidak konsisten dalam menilai konten game.
Table of Contents
Ketika Standar Terlalu Kaku Jadi Masalah
Salah satu kritik utama terhadap IGRS terletak pada pendekatan yang dinilai terlalu kaku, khususnya dalam menilai unsur ketelanjangan dan seksualitas.
Berbeda dengan sistem rating di region lain yang mempertimbangkan konteks, penyajian, dan intensitas, IGRS cenderung melihat semua bentuk konten dalam satu spektrum tanpa banyak diferensiasi.
Akibatnya, konten yang bersifat:
- Artistik
- Implisit
- Naratif
bisa mendapatkan perlakuan yang sama dengan konten yang eksplisit.
Pendekatan ini pada akhirnya membuka potensi kesalahan klasifikasi yang cukup signifikan.
Inkonsistensi Mulai Terlihat di Banyak Judul
Seiring implementasinya yang semakin luas, mulai muncul berbagai contoh yang memperlihatkan ketidakkonsistenan dalam sistem ini.
Beberapa game dengan tema berat justru mendapatkan rating rendah.
Game seperti Persona 3 yang mengangkat tema kematian bisa masuk kategori ringan.
Visual novel seperti Nukitashi yang dikenal memiliki humor dewasa juga tidak mendapatkan pembatasan yang seharusnya.
Bahkan DOOM Eternal yang identik dengan kekerasan brutal melawan iblis juga masuk dalam kategori usia rendah.
Di sisi lain, terdapat game yang secara umum tidak dianggap ekstrem justru mendapatkan klasifikasi tinggi, bahkan hingga tidak layak distribusi.
Fenomena ini membuat standar penilaian menjadi sulit dipahami, baik oleh pemain maupun pelaku industri.
Tidak Hanya Game Global, Game Lokal Juga Terdampak

Yang menarik, dampak dari sistem ini tidak hanya dirasakan oleh game internasional, tetapi juga menyentuh game lokal.
Judul seperti A Space for the Unbound, yang dikenal sebagai game naratif dengan pendekatan emosional dan budaya lokal, justru mendapatkan rating 18+.
Padahal secara konten, game ini lebih menonjolkan cerita, relasi karakter, dan isu personal dibandingkan elemen eksplisit.
Kasus ini memperkuat kekhawatiran bahwa sistem yang ada belum sepenuhnya mampu membaca konteks secara tepat.
Dampak yang Mulai Dikhawatirkan
Jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya bisa cukup luas terhadap ekosistem game di Indonesia.
Beberapa hal yang mulai menjadi perhatian:
- Publisher global bisa mempertimbangkan ulang distribusi game mereka
- Akses pemain terhadap judul tertentu berpotensi terbatas
- Developer lokal bisa terkena dampak dari standar yang tidak jelas
Di sisi lain, kehadiran IGRS di platform besar seperti Steam membuat efeknya menjadi jauh lebih signifikan dibanding sebelumnya.
Kesimpulan
IGRS hadir dengan tujuan yang jelas, namun implementasi di lapangan masih membutuhkan banyak penyempurnaan.
Ketika sistem rating tidak mampu menjaga konsistensi dan konteks dalam penilaian, maka fungsinya sebagai panduan justru menjadi dipertanyakan.
Dengan semakin banyaknya contoh kasus dari berbagai jenis game, baik global maupun lokal, kebutuhan akan evaluasi dan penyesuaian sistem menjadi semakin penting agar ekosistem game di Indonesia tetap sehat dan berkembang.




