Tidak semua studio baru bisa langsung berjalan mulus, bahkan ketika dipimpin oleh nama besar dari industri game Jepang. Hal itu juga dialami PinCool, studio yang didirikan oleh Ryutaro Ichimura, sosok yang sebelumnya dikenal sebagai produser utama Dragon Quest VIII dan Dragon Quest IX.
Setelah meninggalkan Square Enix pada 2023, Ichimura memulai babak baru dengan memimpin PinCool sebagai CEO. Studio ini awalnya berdiri dengan dukungan pendanaan dari NetEase Games, perusahaan besar asal Tiongkok yang sempat aktif berinvestasi ke sejumlah studio Jepang.
Namun perjalanan PinCool ternyata tidak sepenuhnya stabil. Dalam wawancara terbaru bersama Famitsu, Ichimura mengungkap bahwa studionya sempat mengalami masa penuh tekanan ketika NetEase Games mengubah strategi investasinya di pasar Jepang.
PinCool Ikut Terdampak Perubahan Strategi NetEase
Beberapa waktu terakhir, NetEase Games diketahui mulai mengurangi keterlibatan mereka di sejumlah proyek dan studio Jepang. Sebelumnya, perusahaan tersebut sempat menanamkan investasi besar ke beberapa studio yang dipimpin kreator ternama.
Perubahan arah itu kemudian berdampak pada berbagai studio. Salah satu kasus yang cukup mencolok adalah Ouka Studios, developer Visions of Mana, yang akhirnya ditutup. Selain itu, Nagoshi Studio juga dilaporkan kehilangan pendanaan saat tengah mengembangkan proyek action cinematic berskala besar berjudul Gang of Dragon.
Di tengah situasi tersebut, PinCool rupanya juga ikut merasakan dampaknya. Ichimura menyebut bahwa sejak awal mendirikan studio, ia sebenarnya sudah menyiapkan diri jika skenario buruk seperti ini terjadi. Hanya saja, penarikan dukungan dari NetEase datang lebih cepat dari perkiraan mereka.
Dua Proyek Harus Dihentikan
Saat dukungan NetEase mulai ditarik, PinCool sedang mengerjakan tiga proyek yang belum diumumkan ke publik. Dari tiga proyek tersebut, hanya satu yang berhasil bertahan.
Alasannya cukup sederhana: proyek yang selamat memiliki skala lebih kecil dan sudah berada dalam tahap hampir selesai. Sementara dua proyek lainnya merupakan proyek jangka panjang, sehingga akhirnya harus dihentikan.
Keputusan itu tentu bukan hal ringan untuk studio muda. Apalagi PinCool masih berada dalam fase membangun identitas dan portofolio setelah ditinggal oleh pendanaan awalnya.
Namun dari situ, kesiapan Ichimura dalam membaca kemungkinan terburuk menjadi faktor penting. Ia sudah mulai bergerak mencari jalan keluar sebelum NetEase secara resmi menarik dukungannya.
Partner Baru Bikin PinCool Tetap Bertahan
PinCool akhirnya berhasil menemukan partner baru lewat Initiate Games, perusahaan investasi asal Amerika Serikat. Studio tersebut kemudian menjadi anak perusahaan Initiate Games, dengan tim internalnya tetap dipertahankan secara utuh.
Bagi Ichimura, kondisi salah satu proyek yang sudah hampir selesai menjadi alasan penting mengapa PinCool masih bisa mendapatkan kepercayaan dari investor baru. Game tersebut sudah bisa dimainkan dan berada dalam tahap yang cukup matang, sehingga memberikan gambaran jelas bahwa studio ini memang punya sesuatu untuk ditawarkan.
Proyek itulah yang kemudian menjadi game debut PinCool, Pritto Prisoner, yang dirilis pada 2025. Meski lahir dari situasi yang tidak mudah, perilisan tersebut menjadi tanda bahwa studio ini berhasil melewati salah satu fase paling kritis dalam perjalanannya.
PinCool Akan Fokus ke Skala Indie
Setelah melewati masa turbulensi tersebut, PinCool kini memilih langkah yang lebih realistis. Ke depannya, studio ini berencana melanjutkan pengembangan game berskala indie dengan tim internal kecil yang mereka miliki.
Namun bukan berarti PinCool menutup pintu untuk proyek yang lebih besar. Ichimura juga menyebut bahwa mereka masih ingin menawarkan ide game berskala lebih besar kepada perusahaan eksternal.
Dengan pengalaman panjang Ichimura di industri game, terutama lewat franchise sebesar Dragon Quest, perjalanan PinCool tentu masih menarik untuk diikuti. Studio ini memang sempat terguncang oleh perubahan strategi NetEase, tetapi keberhasilan mereka mempertahankan tim dan merilis game perdana menunjukkan bahwa PinCool masih punya ruang untuk tumbuh.
Pada akhirnya, kisah PinCool menjadi gambaran bahwa industri game tidak hanya soal ide kreatif dan nama besar, tetapi juga tentang bagaimana sebuah studio bertahan ketika fondasi bisnisnya tiba-tiba berubah.