Kalau kamu pernah main game masak – masakan di era awal 2000-an seperti Cooking Mama atau game flash di PC, pasti tahu sensasi santai tapi nagih dari genre ini.
Nah sekarang, developer lokal mencoba menghadirkan pengalaman serupa dengan pendekatan yang lebih modern dan tentu saja membawa tema Indonesia, khususnya lewat masakan khas seperti bakso.
Kuloniku memiliki story kita mendapat warisan Toko Bakuso yang legendaris dan sekarang giliran kita untuk mengangkat nama Restoran tersebut menjadi melegenda lagi
Pertanyaannya, apakah game ini cuma mengandalkan nostalgia, atau benar-benar punya kualitas yang bisa bersaing di era sekarang?
Table of Contents
Performa Ringan Tapi Tetap Halus
Hal pertama yang langsung terasa adalah performanya. Game ini berjalan sangat lancar bahkan di device yang bukan kelas high-end.
Dalam pengujian menggunakan Mac Mini M2 dan Steam Deck, tidak ditemukan masalah berarti. Tidak ada frame drop saat cutscene, tidak ada stutter saat gameplay mulai ramai, semuanya terasa stabil dari awal sampai akhir.
Dari sisi visual, game ini menggunakan art style yang cukup unik. Ada nuansa anime awal 2000-an yang terasa familiar, sedikit mengingatkan pada era Digimon atau Inazuma Eleven. Walau sederhana, tampilannya tetap enak dilihat dan cocok dengan tema santainya.
Bahasa Indonesia yang Natural dan “Hidup”
Salah satu kekuatan terbesar game ini ada di penggunaan bahasa Indonesia.
Dialog antar karakter terasa sangat natural, bukan sekadar terjemahan kaku. Setiap karakter punya cara bicara yang berbeda, sesuai dengan kepribadiannya. Karakter yang keras akan terdengar tegas, sementara yang pemalu terasa canggung dan halus.
Ini membuat interaksi terasa hidup dan lebih dekat dengan pemain Indonesia.
Namun, di sisi lain, hal ini juga bisa jadi tantangan. Beberapa order dari pelanggan disampaikan dalam bentuk kalimat kompleks atau “custom request”, sehingga kadang terasa seperti sedang mengerjakan soal Bahasa Indonesia.
Kalau tidak teliti, cukup mudah melakukan kesalahan di awal permainan. Tapi justru di situlah letak keunikannya.
Gameplay Simpel Tapi Sangat Adiktif
Masuk ke inti utama, gameplay cooking simulation di game ini bisa dibilang cukup sukses.
Sistem memasaknya dibuat cukup realistis, tapi tetap sederhana. Setiap bahan memiliki pengaruh rasa tertentu, dan pemain harus menyeimbangkan komposisi agar sesuai dengan pesanan pelanggan.
Menariknya, game ini tidak menampilkan data rumit. Hanya ada indikator sederhana seperti naik turun rasa dan bar komposisi yang memudahkan pemain memahami hasil masakan.
Meski begitu, ada sedikit kekurangan. Sistem rasa “sedang” terasa kurang jelas karena indikatornya tidak selalu muncul secara eksplisit. Namun game masih memberikan toleransi selama resep tidak melenceng terlalu jauh.
Hal inilah yang bikin gameplay tetap terasa santai tapi tetap menantang.
Sistem Relasi Ala Social Link
Tidak hanya memasak, game ini juga membawa elemen cerita yang cukup dalam.
Kamu berperan sebagai pewaris warung bakso milik nenek yang dulu sangat legendaris. Tugasmu adalah mengembalikan kejayaan tersebut sambil menghadapi berbagai karakter unik di sekitarmu.
Setiap karakter memiliki latar belakang dan kepribadian berbeda. Ada rival koki yang terlihat galak tapi sebenarnya butuh pengakuan, hingga teman masa kecil dengan hubungan yang ambigu.
Menariknya, ada sistem kedekatan atau relationship bar yang mengingatkan pada sistem Social Link di game RPG. Semakin dekat hubunganmu dengan karakter tertentu, semakin banyak keuntungan yang bisa didapat, seperti upgrade atau unlock fitur baru.
Ini membuat progres game terasa lebih hidup dan personal.
Kesimpulan
Game ini berhasil menangkap esensi dari game masak klasik, lalu mengemasnya dengan pendekatan modern dan sentuhan lokal yang kuat.
Mulai dari performa yang ringan, visual yang nyaman, penggunaan bahasa yang natural, hingga gameplay yang adiktif, semuanya terasa solid. Ditambah lagi dengan sistem cerita dan relasi yang membuat pemain betah berlama-lama.
Dengan harga di kisaran 100 ribuan, game ini sangat layak untuk dicoba, terutama buat kamu yang ingin nostalgia sekaligus mencari game santai di sela – sela game berat.
Dan hati-hati, karena sekali main, bisa-bisa kamu juga ikut “ketagihan masak” berjam – jam tanpa sadar.









