Istilah “Genshin Killer” mungkin jadi salah satu marketing gimick paling menyebalkan sekaligus efektif dalam beberapa tahun terakhir. Setiap ada game open-world bergaya anime yang mau rilis, jagat internet langsung heboh seolah takhta Hoyoverse bakal segera runtuh.
Namun, kenyataan di lapangan seringkali berkata lain. Menjadi kompetitor game sebesar Genshin Impact butuh lebih dari sekadar visual cantik; butuh optimisasi, komitmen konten, dan “nyawa” agar pemain nggak sekadar numpang lewat.
Berikut adalah 6 game yang sempat menyandang gelar beban tersebut, dan bagaimana nasib mereka sekarang.
Table of Contents
1. Tower of Fantasy (ToF) – Identitas yang Tertukar
ToF adalah bukti bahwa hype bisa jadi pisau bermata dua. Rilis di tengah keringnya konten Genshin kala itu, ToF datang dengan janji kustomisasi karakter yang luar biasa dan fitur MMO. Sayangnya, masalah teknis seperti bug visual, dubbing yang nggak sinkron, dan dunia yang terasa “kosong” bikin pemain lama-lama gerah.
ToF nggak mati, tapi mereka berhenti mencoba jadi “Genshin Killer” dan memilih jalan sendiri sebagai game MMO sci-fi yang makin lama makin liar—bisa balapan mobil sampai ke luar angkasa.
2. Noah’s Heart – Ambisi Besar, Eksekusi Kurang
Datang dari developer Dragon Raja, game ini menjanjikan eksplorasi satu planet penuh. Kedengarannya keren, kan? Sayangnya, Noah’s Heart terjebak dalam penyakit klasik game mobile: Auto-everything.
Pemain merasa hanya jadi penonton, ditambah lagi dunia seluas planet itu terasa sangat sepi dan generik. Alhasil, antusiasme pemain terjun bebas. Game ini akhirnya menyerah dan resmi menutup layanannya di tahun 2024.
3. The Legend of Neverland – Alternatif “Budget”
Sering diejek sebagai “Genshin versi lite” atau bahkan plagiat karena aset dan UI-nya yang sangat mirip, game ini justru punya strategi yang cerdik. Mereka menyasar pasar low-end.
Di saat Genshin butuh spek HP “dewa”, Legend of Neverland bisa jalan lancar di HP kentang sekalipun. Strategi ini berhasil bikin mereka bertahan sampai sekarang sebagai opsi bagi gamer yang ingin mencicipi sensasi open-world tanpa harus beli HP baru.
4. Ni no Kuni: Cross Worlds – Visual Ghibli yang Tercederai NFT
Secara visual, game ini adalah masterpiece berkat sentuhan ala Studio Ghibli. Namun, reputasinya hancur gara-gara sistem monetisasi yang dianggap terlalu rakus dan integrasi NFT/Blockchain yang bikin server dipenuhi akun bot.
Pemain asli harus antre berjam-jam kecuali mereka mau bayar “jalur cepat” (Fast Track). Bukannya membunuh Genshin, game ini malah membunuh antusiasme pemainnya sendiri dengan sistem ekonomi yang berantakan.
5. Infinity Nikki – Platformer Cantik dengan Masalah Klasik
Infinity Nikki mengambil rute berbeda dengan fokus pada dress-up dan cozy exploration. Dunianya sangat cantik berkat Unreal Engine 5, dan mekanik platforming-nya tergolong cerdas.
Namun, game ini mulai mendapat sorotan negatif karena sistem monetisasinya yang dianggap mulai menyerempet ke arah predatory. Ia tetap punya pasarnya sendiri, terutama di kalangan gamer yang lebih suka dandan daripada grinding artifact.
6. Wuthering Waves (WuWa) – Rival yang Sebenarnya
Dari semua nama di daftar ini, WuWa adalah yang paling mendekati gelar “rival”. Meski peluncurannya penuh drama teknis dan optimization yang ampas di HP, Kuro Games menunjukkan dedikasi luar biasa dengan memperbaiki performa secara masif.
Memasuki tahun 2025, WuWa berhasil membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pengekor. Dengan sistem combat yang jauh lebih dalam dan fleshy, WuWa kini berdiri sejajar sebagai alternatif utama bagi mereka yang bosan dengan combat Genshin yang dianggap terlalu simpel.
Bottom Line Istilah “Genshin Killer” pada akhirnya hanyalah sebuah clickbait. Genshin Impact mungkin tidak butuh pembunuh, tapi industri ini butuh rivalitas. Kehadiran game seperti WuWa dan Infinity Nikki memaksa developer untuk terus berinovasi dan tidak pelit terhadap pemain.
Bagaimana menurut kalian?