Industri game mobile saat ini telah dibanjiri oleh ribuan judul game gacha. Di Indonesia, tren pasar sangat didominasi oleh game dengan pendekatan visual anime yang kental dan mekanik auto-battle yang ramah bagi pemain kasual. Namun, di balik dominasi tersebut, terdapat sejumlah judul berkualitas tinggi yang justru luput dari radar.
Berbagai game ini menawarkan narasi yang mendalam, mekanik permainan yang inovatif, dan world-building yang solid. Sayangnya, karena beberapa faktor spesifik, eksistensi mereka menjadi underrated di pasar lokal. Sebagai referensi bagi Anda yang mulai jenuh dengan formula game yang repetitif, berikut adalah kompilasi 15 game gacha underrated yang patut mendapat perhatian lebih.
Table of Contents
1. Cookie Run Kingdom
Sekilas, Cookie Run Kingdom tampak seperti game kasual biasa dengan desain karakter biskuit yang menggemaskan. Namun, jangan biarkan visualnya menipu Anda. Game ini menyimpan narasi yang cukup berat, mengusung tema kebangkitan penguasa kegelapan dan intrik politik antar kerajaan.
Di luar elemen real-time auto battle, daya tarik utamanya terletak pada sistem kingdom building dan manajemen sumber daya yang adiktif. Sayangnya, game ini kurang populer di Indonesia karena absennya gaya visual anime yang menjadi primadona. Selain itu, power creep yang cukup agresif membuat pemain Free-to-Play (F2P) sering kali kewalahan saat menembus PVP tingkat tinggi, meskipun developer cukup royal memberikan kompensasi.
2. Morimens
Bagi penggemar mahakarya seperti Slay The Spire, Morimens hadir sebagai suksesor spiritual yang membawa elemen narasi Lovecraftian. Dunia surealis yang hancur, ritual terlarang, dan entitas kosmik menjadi sajian utama yang dibalut dalam storytelling penuh simbolisme.
Game ini mengadopsi sistem card-based roguelike murni. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan matang karena tidak ada fitur auto sama sekali. Ironisnya, hal yang menjadi nilai jual utama ini jugalah yang menjadi bumerang di pasar Indonesia. Mayoritas pemain yang lebih menyukai efisiensi waktu cenderung menghindari game yang menuntut konsentrasi tinggi. Diperparah lagi, kualitas lokalisasi terjemahannya terasa seperti hasil mesin, yang justru merusak pengalaman menikmati cerita beratnya.
3. Neural Cloud
Sebagai bagian dari franchise Girls’ Frontline, Neural Cloud menawarkan salah satu kualitas penulisan cerita terbaik di kelas game gacha. Mengangkat tema eksistensialisme dan Artificial Intelligence (AI) yang diasingkan, pemain ditugaskan sebagai seorang Profesor yang memandu para entitas digital bertahan hidup.
Mekanik permainannya cukup unik, menggabungkan grid tactical-based dengan elemen semi-roguelike. Kendati sangat ramah untuk pemain F2P, antarmuka pengguna (UI) yang terasa usang untuk standar rilisan 2022 menjadi nilai minus. Selain itu, sistem pertempurannya kerap terasa terlalu chaotic—begitu banyak kalkulasi dan efek visual yang terjadi dalam satu waktu, sehingga pemain sering kali kehilangan konteks mengapa mereka menang atau kalah dalam sebuah fase pertempuran.
4. AFK Journey
Merupakan spin-off dari AFK Arena, game ini hadir dengan peningkatan visual masif yang digambarkan layaknya sebuah lukisan kanvas hidup. AFK Journey memodernisasi genre idle RPG dengan fitur slot leveling, di mana pemain tidak perlu melakukan grinding secara individual untuk setiap karakter baru yang didapatkan.
Walaupun memiliki eksplorasi puzzle dan draf PVP yang kompetitif, game ini memiliki satu kelemahan fatal: fragmentasi server. Terlalu banyak server yang dibuka tanpa dukungan fitur cross-server yang optimal, membuat interaksi sosial antar pemain (seperti membentuk guild atau bermain bersama teman) menjadi sangat terbatas. Ditambah lagi dengan rate gacha yang dinilai cukup ketat, membuat potensinya tertahan di pasar kasual.
5. Sword of Convallaria
Sword of Convallaria adalah oase di tengah gersangnya genre tactical RPG di platform mobile. Game ini menyajikan kisah epik tentang perang politik dan konspirasi melalui mode Spiral of Destiny, yang memungkinkan pemain memilih cabang cerita dengan berbagai ending.
Peta pertarungannya sangat interaktif—pemain bisa memanfaatkan tebing, jebakan, dan elemen lingkungan untuk membalikkan keadaan. Namun, game yang menuntut presisi strategi ini dirusak oleh implementasi Artificial Intelligence pada mode auto yang sangat di bawah standar. Akibatnya, pemain dipaksa melakukan rutinitas harian (grinding) secara manual, yang memakan waktu layaknya bermain game konsol offline. Game ini terasa lebih pantas dirilis sebagai game premium ketimbang live-service gacha.
6. Aether Gazer
Dipublikasikan oleh Yostar, Aether Gazer adalah representasi dari optimasi performa yang bertemu dengan estetika Action RPG yang dinamis. Kontrolnya terasa sangat responsif dengan sistem kombo yang memuaskan untuk ukuran perangkat genggam. Masalah utamanya bukanlah kualitas, melainkan momentum rilis yang harus berhadapan langsung dengan dominasi ARPG lain yang sudah lebih dulu mapan secara komunitas.
Aether Gazer menghadapi tantangan “kanibalisme” pasar. Di satu sisi, ia harus bersaing dengan raksasa ARPG seperti Genshin Impact dan Honkai Impact 3rd. Di sisi lain, sebagai judul dari Yostar, ia sering kali berada di bawah bayang-bayang pemasaran Arknights atau Azur Lane. Status underrated-nya muncul karena pemain sering menganggapnya sebagai “alternatif” daripada “pilihan utama.”
7. Outerplane
Outerplane menawarkan pengalaman turn-based RPG yang sangat solid dengan animasi 3D yang tajam. Keunggulan game ini terletak pada sistem pertempuran taktis yang memungkinkan pemain melakukan interupsi serangan musuh. Sayangnya, kurangnya narasi pemasaran yang masif di wilayah Asia Tenggara membuat game ini tetap menjadi permata tersembunyi bagi para loyalis genre strategi.
Alasan utama Outerplane kurang tersorot adalah kemiripan mekaniknya dengan Epic Seven—yang juga dikelola oleh Smilegate. Bagi banyak pemain, tidak ada alasan fundamental yang cukup kuat untuk berpindah dari game lama yang sudah mapan ke judul baru yang menawarkan sensasi serupa. Game ini terjebak dalam stigma “Epic Seven 2.0 dengan 3D.”
8. Snowbreak: Containment Zone
Mencoba mendobrak tren RPG konvensional, Snowbreak hadir dengan genre Third-Person Shooter (TPS). Game ini menyajikan pertempuran melawan bos raksasa dengan detail grafis yang mengagumkan. Meskipun inovasinya menyegarkan, genre shooter-anime memerlukan waktu adaptasi lebih lama bagi audiens kasual yang terbiasa dengan sistem point-and-click.
Menggabungkan Third-Person Shooter (TPS) dengan perangkat mobile adalah tantangan teknis yang berat. Kontrol yang lebih kompleks dibandingkan RPG konvensional membuat Snowbreak memiliki barrier of entry yang tinggi bagi pemain kasual. Selain itu, masalah performa pada awal peluncuran membuat banyak pemain potensial enggan memberikan kesempatan kedua
9. Reverse: 1999
Bagi penikmat cerita, Reverse: 1999 adalah sebuah mahakarya. Atmosfer abad ke-20, kualitas voice acting yang teatrikal, serta gaya seni yang unik menjadikannya sangat distingtif. Game ini membuktikan bahwa gacha tidak selalu soal angka, tetapi juga soal kualitas literasi dan presentasi visual yang matang.
Game ini dianggap underrated karena pendekatannya yang sangat “intelektual” dan berfokus pada estetika retro-sinematik. Di pasar Indonesia, di mana pemain lebih menyukai aksi cepat dan sistem meta yang eksplisit, narasi lambat dan gaya puitis Reverse: 1999 sering kali dianggap membosankan oleh audiens mainstream.
10. Limbus Company
Project Moon kembali menunjukkan taringnya lewat Limbus Company. Game ini tidak disarankan bagi pemain yang mencari pengalaman “instan”. Dengan narasi yang gelap, filosofis, dan sistem pertarungan yang sangat kompleks, game ini adalah oase bagi pemain hardcore yang menginginkan tantangan intelektual dalam sebuah game gacha.
Limbus Company adalah “korban” dari kedalamannya sendiri. Sistem pertempurannya yang melibatkan mekanik koin dan lore yang sangat terikat dengan judul-judul sebelumnya dari Project Moon membuatnya sangat sulit dipahami oleh pemain baru. Game ini luar biasa bagi penggemar setianya, namun terasa “asing” bagi publik luas karena kerumitannya.
11. Echocalypse
Echocalypse menyajikan kualitas ilustrasi karakter yang sangat mendetail dengan tema pasca-apokaliptik yang menarik. Secara fungsional, game ini memiliki antarmuka (UI) yang sangat rapi dan fitur yang memudahkan pemain baru. Kelemahannya hanya satu: rilis di tengah saturasi pasar yang luar biasa padat, sehingga identitasnya sering kali tertutup oleh judul dengan anggaran iklan yang lebih fantastis.
Echocalypse adalah korban dari saturasi genre idle/AFK RPG. Meskipun kualitas ilustrasinya berada di kelas atas, mekanik dasarnya tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar revolusioner. Di pasar yang sudah dipenuhi oleh ratusan judul serupa, sulit bagi sebuah game untuk dianggap menonjol jika hanya mengandalkan aspek visual saja.
12. Heaven Burn Reds
Heaven Burns Red menghadirkan kualitas cerita yang sangat kuat dengan pendekatan naratif khas Jun Maeda yang emosional dan mendalam. Secara konsep, game ini menawarkan pengalaman storytelling yang jarang ditemukan di game mobile, dengan karakter yang terasa hidup dan penuh perkembangan. Namun secara gameplay, sistem turn-based yang diusung terasa kurang menarik bagi sebagian pemain, terutama di tengah tren game action yang lebih cepat dan dinamis.
Heaven Burns Red juga menjadi salah satu contoh game yang kurang dilirik di Indonesia karena terlalu fokus pada cerita. Bagi pemain yang tidak terbiasa dengan dialog panjang, pacing game ini terasa lambat dan kurang engaging. Ditambah dengan adanya elemen yuri bait yang tidak selalu cocok dengan preferensi pasar lokal, membuat game ini semakin sulit menjangkau audiens yang lebih luas meskipun kualitasnya sebenarnya berada di atas rata-rata.
Kesimpulan Mengapa Kualitas Saja Tidak Cukup?
Melihat daftar di atas, kita dapat menarik satu kesimpulan tajam: dalam industri gacha modern, kualitas teknis bukan lagi satu-satunya penentu kesuksesan. Faktor momentum, manajemen komunitas, dan keunikan posisi pasar memegang peranan krusial. Judul-judul underrated ini adalah pengingat bahwa banyak pengembang yang tetap berdedikasi menciptakan karya berkualitas meski harus berada di bawah bayang-bayang raksasa.
Bagi para pemain yang menginginkan variasi dan kedalaman mekanik, mencoba judul-judul di atas adalah langkah bijak sebelum mereka benar-benar hilang dari peredaran akibat fenomena End of Service (EOS). Dukungan komunitas sangat dibutuhkan agar inovasi-inovasi segar dalam industri ini tetap memiliki ruang untuk bernapas.