Di tengah banyaknya game yang berusaha tampil realistis atau “dewasa”, Inazuma Eleven justru mengambil arah berbeda. Menurut Akihiro Hino, kunci kesuksesan seri ini adalah satu hal sederhana: tidak pernah mencoba terlihat keren di mata orang dewasa.
Pernyataan ini muncul dalam wawancara terbaru bersama jurnalis olahraga sekaligus mangaka Naohiko Ueno, di mana Hino membahas fondasi utama yang membuat franchise ini bertahan hingga sekarang.
Kritik Panjang Justru Tanda Ekspektasi Tinggi
Proyek terbaru mereka, Inazuma Eleven: Victory Road, sempat melewati perjalanan panjang dengan lebih dari sepuluh kali penundaan sejak pertama kali diumumkan. Situasi ini sempat memicu kekecewaan dari penggemar.
Namun, Hino melihatnya dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, kritik tersebut justru lahir karena ekspektasi tinggi terhadap seri ini. Dan hasil akhirnya cukup membuktikan hal itu, game ini sempat memuncaki daftar penjualan global di Steam selama sebelas hari berturut-turut dan berhasil terjual lebih dari 800 ribu kopi di seluruh dunia.
Filosofi “Percaya Seperti Anak Kecil”
Untuk menjelaskan daya tarik Inazuma Eleven, Hino menggunakan analogi yang tidak biasa: Santa Claus. Ia menggambarkan bagaimana anak-anak bisa percaya sepenuhnya pada sesuatu tanpa mempertanyakannya secara logis.
Pendekatan inilah yang diterapkan dalam game. Pemain tidak diajak memikirkan apakah aksi di lapangan masuk akal, seperti karakter yang melompat tinggi, mengeluarkan jurus, atau melakukan aksi dramatis lainnya. Justru kebebasan imajinasi itulah yang menjadi daya tarik utama.
Alih-alih menahan elemen berlebihan agar terlihat realistis, Level-5 memilih untuk mempertahankan sisi “liar” tersebut karena sesuai dengan cara anak-anak menikmati hiburan.
Terinspirasi Shonen, Bukan Sekadar Sepak Bola
Menariknya, Inazuma Eleven sejak awal tidak dirancang sebagai game sepak bola biasa. Hino mengungkap bahwa idenya lebih dekat dengan menghadirkan nuansa manga shonen ke dalam game.
Konsep utamanya adalah benturan karakter, rivalitas, dan semangat juang antar tokoh, sesuatu yang lebih identik dengan karya seperti Dragon Ball dibanding simulasi olahraga realistis.
Sepak bola hanya dijadikan latar, sementara inti pengalaman tetap berfokus pada drama, persahabatan, dan konflik antar karakter.
Tetap Relevan Karena Konsisten dengan Identitas
Selama 17 tahun, Inazuma Eleven tidak banyak berubah dalam hal pendekatan kreatifnya. Justru konsistensi inilah yang membuatnya tetap relevan.
Saat banyak game mencoba mengikuti tren, seri ini memilih bertahan dengan identitasnya sendiri, dan mengutamakan imajinasi anak-anak dibanding logika orang dewasa. Dan sejauh ini, keputusan tersebut terbukti masih berhasil menjaga antusiasme penggemarnya.