Underboard Media — Rumor soal kondisi internal Guardian Tales kembali memanas setelah muncul curhatan anonim di forum komunitas Korea Selatan yang mengaku ditulis oleh mantan developer internal.
Berbeda dari rumor sebelumnya, postingan kali ini tidak hanya menyebut daftar proyek, tetapi juga menjelaskan kondisi di balik layar. Mulai dari proyek yang disebut gagal, keputusan manajemen yang dipaksakan, hingga tekanan terhadap tim live service.
Perlu dicatat, seluruh informasi ini masih berupa klaim sepihak dan belum dikonfirmasi secara resmi. Namun detail yang dibagikan cukup spesifik dan langsung memicu diskusi luas di komunitas.

Table of Contents
Guardian Tales Masuk Daftar Proyek “Mati”
Bagian paling mengejutkan datang dari daftar proyek yang dibagikan.
Dalam postingan tersebut, Guardian Tales disebut masuk ke kategori proyek yang sudah tidak berjalan. Nama ini muncul bersama beberapa proyek lain seperti Project OS dan Kong82 yang juga disebut dihentikan.
Jika interpretasi ini benar, maka artinya Guardian Tales tidak lagi dianggap sebagai proyek aktif di dalam pipeline internal. Di sinilah mulai muncul kekhawatiran yang lebih serius dari komunitas.
Apakah ini tanda bahwa game tersebut perlahan menuju penutupan?
Daftar Proyek: Mana yang Bertahan, Mana yang Gugur
Curhatan tersebut juga membagi proyek internal menjadi dua kelompok yang cukup kontras.
Untuk proyek yang masih berjalan, disebut beberapa nama seperti Project Hero, Project Zero yang ditargetkan rilis 2026, hingga Project Octopus. Namun bahkan proyek ini pun digambarkan belum sepenuhnya stabil.
Sementara itu, proyek yang dianggap “mati” mencakup Guardian Tales, Project OS, hingga Kong82. Ini menunjukkan bahwa tidak hanya proyek baru yang gagal, tetapi juga game yang sudah dikenal publik bisa ikut terdampak.
Di titik ini, yang terlihat bukan sekadar kegagalan satu proyek, tapi pola yang lebih luas.

Keputusan Internal yang Dipertanyakan
Di luar daftar proyek, curhatan tersebut juga menyinggung masalah internal yang lebih dalam.
Disebutkan bahwa beberapa keputusan penting justru didorong oleh pihak eksternal atau “orang tertentu”, bahkan ketika mendapat penolakan dari tim developer internal. Salah satu contoh yang disebut adalah sistem dalam game yang tetap dipaksakan meski tidak disetujui oleh tim yaitu sistem blessing.
Yang membuat situasi ini semakin buruk, ketika hasilnya mendapat respons negatif, tanggung jawab justru diarahkan kembali ke pemain. Ini menciptakan jarak antara developer dan komunitas.
Tekanan ke Tim Live Service dan Proyek yang Gagal Total
Ada juga klaim bahwa sejak 2024, tim live service disebut mendapat tekanan untuk bersiap menghadapi kemungkinan penghentian layanan, sementara fokus perusahaan justru diarahkan ke proyek baru.
Namun ironisnya, beberapa proyek baru tersebut disebut gagal total bahkan sebelum sempat dirilis. Ini menciptakan kondisi yang cukup kontras, di mana proyek yang sudah menghasilkan justru tidak diprioritaskan.
Kesimpulan
Untuk saat ini, semua informasi masih berasal dari satu sumber dan belum terverifikasi. Namun dengan banyaknya detail yang muncul, sulit untuk mengabaikan pola yang mulai terbentuk.
Ketika proyek besar seperti Guardian Tales disebut masuk daftar yang “mati”, sementara proyek baru terus gagal dan tim internal berada di bawah tekanan, maka yang dipertanyakan bukan lagi satu game.
Melainkan arah studio itu sendiri.
Jika tidak ada klarifikasi dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin kekhawatiran soal penutupan Guardian Tales akan terus membesar di komunitas.