Resident Evil: Survival Unit – Ekspektasi Tinggi, Realita Menyakitkan
Sejak pertama kali diumumkan, banyak fans berharap besar pada Resident Evil: Survival Unit. Dengan nama sebesar franchise ini dan segmen livestream khusus saat pengumuman, wajar kalau ekspektasi melonjak. Banyak yang membayangkan game survival horror klasik dengan sentuhan modern.
Namun setelah dimainkan sekitar 20 jam, kenyataannya cukup mengecewakan. Alih-alih menghadirkan pengalaman mencekam khas seri utama, game ini justru terasa seperti produk berbeda yang hanya “menempel” nama besar franchise.
Table of Contents
Spek Ringan, Konten Terasa Kosong
Secara teknis, game ini ringan. Ukurannya hanya sekitar 1,5 GB dan bisa berjalan lancar di perangkat flagship seperti Snapdragon 8 Gen 3. Dari sisi performa memang tidak ada masalah berarti.
Masalahnya, ukuran yang ringan ini seolah mencerminkan kontennya. Dunia terasa kosong, aktivitas repetitif, dan tidak ada kedalaman gameplay yang benar-benar membuat pemain betah.
Mode Eksplorasi: Menarik di Awal, Zonknya Belakangan
Satu hal yang sempat terlihat menjanjikan adalah mode eksplorasi dengan tampilan top-down ala era PS1. Puzzle ringan dan atmosfer klasik sempat memunculkan harapan bahwa game ini akan membawa nostalgia survival horror lama.
Sayangnya, mode ini terasa seperti gimmick. Quest bisa di-skip sepenuhnya, sehingga eksplorasi tidak terasa penting. Mekanik tembak-menembak pun kurang solid, dengan hit detection yang terasa tidak konsisten. Mode yang seharusnya menjadi daya tarik utama justru terasa setengah matang.
Ternyata… Ini City Builder
Di sinilah inti masalahnya. Resident Evil: Survival Unit ternyata bukan survival horror, melainkan city builder dengan sistem strategi mobile klasik. Bangun markas, upgrade gedung, riset teknologi, dan perang antar klan.
Secara konsep, tidak ada yang salah dengan city builder. Namun menggunakan nama franchise survival horror untuk genre seperti ini terasa janggal. Atmosfer mencekam digantikan dengan manajemen waktu dan sumber daya.
Pay to Win & Grinding Berat
Seperti kebanyakan game strategi mobile, progres terasa lambat tanpa pembelian. Upgrade bangunan memakan waktu lama, sistem VIP hadir hingga level tinggi, dan gacha karakter membutuhkan duplikasi untuk maksimalisasi kekuatan.
Karakter populer seperti Leon terasa sulit didapat tanpa mengikuti event berat atau mengeluarkan uang. Sistem ini membuat pengalaman bermain terasa berat bagi pemain free-to-play.
Mode pertarungan sendiri menggunakan konsep auto-battler tower defense. Pemain hanya menempatkan unit dan menonton mereka bertarung. Tidak ada sensasi tegang atau keputusan cepat yang biasanya menjadi ciri khas Resident Evil.
Sistem Guild dan Dominasi Whale
Fitur guild menjadi pusat kompetisi utama. Event seperti perebutan wilayah berlangsung berjam-jam dalam periode panjang. Dalam praktiknya, pemain dengan investasi terbesar (whale) cenderung mendominasi.
Hal ini memperkuat kesan bahwa game lebih fokus pada monetisasi daripada pengalaman survival horror yang solid.
Kesimpulan: Worth It atau Tidak?
Sebagai city builder, game ini sebenarnya fungsional. Namun sebagai bagian dari franchise survival horror legendaris seperti Resident Evil milik Capcom, ekspektasinya tentu berbeda.
Jika Anda mencari pengalaman survival horror yang menegangkan, game ini kemungkinan besar tidak akan memenuhi harapan. Namun jika Anda memang menyukai genre strategi mobile dan tidak keberatan dengan sistem pay to win, mungkin Anda bisa tetap menikmati sisi kompetitifnya.
Bagi sebagian fans lama, ini terasa seperti eksperimen yang kurang tepat arah. Resident Evil dikenal karena atmosfer, ketegangan, dan manajemen sumber daya dalam situasi genting — bukan manajemen kota dan perang klan.
Pada akhirnya, keputusan ada di tangan pemain. Namun satu hal jelas: game ini bukan survival horror yang banyak orang bayangkan.






