Setiap tahun, dunia gaming selalu ramai dengan daftar game terbaik versi masing-masing orang. Media, kreator konten, sampai gamer di forum berlomba-lomba menyebutkan judul favorit mereka sepanjang 2025. Tapi di balik deretan game luar biasa itu, ada juga sisi lain yang jarang dibahas: game-game yang justru gagal total dan meninggalkan rasa kecewa.
Kali ini, kita akan melihat daftar game dengan skor terendah tahun 2025 berdasarkan data dari Metacritic. Apakah semuanya memang seburuk itu? Atau justru ada beberapa judul yang sebenarnya masih punya sisi menarik? Yuk, kita bedah satu per satu dan cari tahu jawabannya.
1. Nintendo Switch 2 Welcome Tour

Metascore 54/100, user score 3.4/10
Kontroversi sering kali lahir bukan karena gamenya jelek, tapi karena ekspektasi yang terlalu tinggi. Itulah yang terjadi dengan Nintendo Switch 2 Welcome Tour. Banyak gamer berharap ini jadi semacam “hadiah pembuka” untuk pemilik konsol baru, pengalaman ringan yang otomatis bisa dimainkan saat pertama kali menyalakan Switch 2. Tapi kenyataannya, Nintendo memilih menjualnya terpisah dengan harga sekitar $9,99, keputusan ini lah yang langsung memicu perdebatan.
Menariknya, kalau kita geser sedikit dari isu harga dan fokus ke kontennya, penilaiannya ternyata tidak sepenuhnya satu arah. Ada yang menganggap pengalaman ini hambar dan tidak layak dibeli, namun ada juga yang melihatnya sebagai cara yang cukup kreatif untuk memperkenalkan fitur-fitur baru Switch 2 secara interaktif. Ironisnya lagi, di tengah kritik tersebut, angka penjualannya tetap kuat saat peluncuran. Ini membuktikan satu hal: persepsi buruk di internet belum tentu menghentikan rasa penasaran pemain untuk mencoba sendiri.
2. Rennsport

Metascore 53/100, user score 3.2/10
Di atas kertas, Rennsport terdengar ambisius. Dikembangkan oleh studio asal Munich bersama developer dari Polandia, game ini dipromosikan bukan sekadar game balap biasa, tapi sebagai evolusi baru untuk genre simulasi racing. Klaimnya dan janji yang cukup tinggi, positioning-nya serius, dan jelas menyasar pemain yang haus pengalaman balap realistis.
Sayangnya, hasil akhirnya nggak sejalan dengan ambisi tersebut. Banyak reviewer merasa game ini terasa belum matang, mulai dari konten yang minim, fitur yang belum solid, sampai presentasi yang terasa seperti produk setengah jadi. Di tahun yang sama ketika kita kedatangan beberapa judul balap solid dan penuh polesan, Rennsport justru terlihat tertinggal jauh. Alih-alih jadi pesaing kuat, ia malah terasa seperti proyek yang dirilis terlalu cepat. Untuk sekarang, mungkin memang lebih aman membiarkannya “jadi pajangan” sambil menunggu perbaikan lebih lanjut.
3. Hunter x Hunter: Nen x Impact

Metascore 53, user score 3.5
Kalau kita lihat judulnya aja sudah kerasa “anime banget”, dan memang target pasarnya jelas: fans berat Hunter x Hunter. Masalahnya, adaptasi game dari anime itu selalu punya tantangan besar. Fans-nya loyal, ekspektasinya tinggi, dan kalau hasilnya nggak sesuai bayangan… backlash-nya bisa brutal.
Sayangnya, Nen x Impact masuk ke kategori yang kena hantam dari dua sisi: kritik media dan juga pemain. Banyak reviewer menyoroti minimnya jumlah karakter serta mode permainan yang terasa tipis untuk ukuran game fighting Dengan harga yang dibanderol sekitar $60, ekspektasi pemain jelas bukan sekadar arena bertarung seadanya.
Reaksi komunitas pun keras. Beberapa pemain terang-terangan menyebut game ini sebagai bentuk “produk setengah jadi” yang tidak pantas dijual dengan harga premium. Kekecewaan mereka bukan cuma soal gameplay, tapi juga soal rasa hormat terhadap materi aslinya. Ketika adaptasi terasa kurang totalitas, fans adalah pihak pertama yang merasa dikhianati pastinya.
Pada akhirnya, kasus ini jadi pengingat bahwa lisensi besar bukan jaminan kualitas yang baik. Nama Hunter x Hunter mungkin kuat, tapi tanpa eksekusi yang matang, bahkan basis penggemar paling setia pun bisa berubah jadi pengkritik paling tajam dan keras.
4. Captain Blood

Metascore 50, user score 5.3
Ada game yang gagal karena ambisinya terlalu besar. Ada juga yang gagal karena… Rilisnya kelamaan, nah Captain Blood ini termasuk game yang gagal karena terlalu lama rilisnya.
Dari tampilannya saja sudah terasa seperti game era Xbox 360 awal, desain karakter macho ala novel bajak laut, gaya action hack-and-slash klasik, dan vibe yang benar-benar “2000-an banget”. Dan itu bukan kebetulan. Game ini memang mulai dikembangkan di pertengahan 2000-an sebelum akhirnya terjebak dalam masalah hukum dan development hell selama hampir dua dekade.
Ketika akhirnya dihidupkan kembali oleh publisher kecil yang ingin mempertahankan visi orisinalnya, keputusan itu jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, mereka ingin menjaga keaslian karya tim awal. Di sisi lain, standar industri sudah berubah jauh. Gameplay yang dulu mungkin terasa solid, sekarang terlihat kaku dan ketinggalan zaman.
Banyak reviewer sepakat bahwa yang paling menarik dari Captain Blood justru bukan gamenya, melainkan cerita panjang di balik pembuatannya. Ia lebih terasa seperti artefak sejarah video game ketimbang game modern yang relevan. Memang bukan berarti game ini sepenuhnya buruk, tapi juga game ini menjadi sebuah product yuang sulit bersaing di tengah ekspektasi gamer masa kini.
Dan mungkin itu yang paling menyedihkan, ketika perjalanan pengembangannya lebih epik dan menarik daripada pengalaman memainkannya sendiri.
5. MindsEye

Metascore 37, user score 2.5
Dengan kabar bahwa GTA 6 yang masih lama rilisnya, jelas ada celah besar bagi gamer yang haus dengan game open-world kriminal berkualitas. Dari situlah harapan besar muncul untuk MindsEye, proyek debut dari studio baru yang dipimpin Leslie Benzies, sosok yang selama ini dikenal lewat seri GTA. Secara teori, game ini seharusnya jadi pesaing serius.
Sayangnya, kenyataannya jauh dari ekspektasi.
Sejak hari pertama, MindsEye langsung diterjang kritik keras. Sistem tembak-menembaknya terasa hambar, misi-misinya cepat membosankan, ceritanya datar, dan bug teknis yang menghantui membuat pengalaman bermain jadi kacau. Beberapa reviewer bahkan membandingkannya dengan game aksi belasan tahun lalu, dan ironisnya, game-game lama itu masih jauh lebih solid untuk dimainkan hari ini.
Media besar tak segan menyebut MindsEye sebagai kegagalan besar. Ada yang terang-terangan bilang bahwa game aksi yang dirilis satu atau dua dekade lalu masih jauh lebih matang dibanding MindsEye. Bagi developer, itu jelas bukan pujian yang ingin didengar.
Tapi, seperti biasa, internet punya caranya sendiri untuk membuat hal menarik. Di tengah hujan kritik, masih ada segelintir pemain yang menikmati game ini apa adanya. Bahkan ada yang memberi skor sempurna, menyebutnya sangat menyenangkan meski terasa mirip GTA. Hal ini jadi pengingat bahwa pengalaman bermain tetap subjektif dan tergantung pada selera masing-masing gamer.
Jadi, meski MindsEye gagal memenuhi ekspektasi besar yang mengelilinginya, setidaknya ia mengajarkan satu hal, membuat game “GTA-like” itu ternyata jauh lebih sulit daripada yang terlihat, bahkan untuk sosok berpengalaman sekalipun.
Penutup
Daftar game “terburuk” 2025 ini jadi pengingat kalau reputasi besar, hype tinggi, atau lisensi terkenal nggak selalu menjamin pengalaman main yang memuaskan. Beberapa game gagal karena eksekusi, beberapa karena waktu rilis yang nggak tepat, dan beberapa malah karena ekspektasi fans yang terlalu tinggi. Tapi satu hal tetap jelas: di balik skor rendah dan review pedas, selalu ada cerita menarik dan pelajaran berharga bagi pengembang maupun pemain. Jadi, sebelum menjudge, kadang memang perlu coba sendiri, siapa tahu di antara kegagalan itu ada sedikit keseruan yang bisa kalian nikmati.