Franchise My Hero Academia memang bukan nama kecil di industri hiburan. Dengan penjualan manga yang menembus lebih dari 100 juta kopi di seluruh dunia serta adaptasi anime yang mendunia, seri ini sudah menjadi fenomena global. Dunia yang dipenuhi manusia dengan kekuatan super bernama Quirk serta profesi Pro Hero yang dielu-elukan publik menjadi daya tarik utama ceritanya.
Kisah tentang Izuku Midoriya, seorang anak quirkless yang bercita-cita menjadi Pahlawan Nomor 1, membawa premis zero to hero yang kuat dan emosional. Dengan season final yang menjadi penutup perjalanan panjang tersebut, adaptasi game terbarunya, My Hero All Justice, seharusnya menjadi klimaks yang megah. Tapi pertanyaannya, apakah game ini benar-benar menjadi penutup yang pantas?

Adaptasi Cerita yang Solid dan Penuh Fanservice
My Hero All Justice langsung mengadaptasi pertarungan final melawan Shigaraki dan All For One. Menariknya, game ini tidak memberikan recap panjang di awal. Begitu masuk ke permainan, pemain langsung disuguhi pertarungan besar yang menjadi semacam taste test untuk gameplay dan visualnya.
Pendekatan ini cukup efektif sebagai hook. Kita langsung dilempar ke momen klimaks tanpa basa-basi.
Dari sisi penyampaian cerita, pengalaman bermain terasa seperti menonton animenya secara langsung. Cutscene menggunakan gaya slideshow animasi dengan potongan gambar bergerak, dipadukan dengan voice acting yang tetap terasa kuat. Pada momen-momen penting, disisipkan CG yang cukup impresif dan sinematik.
Menariknya lagi, beberapa bagian yang di anime hanya berupa recap kini dibuat playable. Contohnya bagian Lady Nagant yang bisa langsung kita mainkan. Bahkan story dari season awal, seperti penyerangan Nomu, juga tersedia sebagai konten tambahan. Dari sisi adaptasi cerita, game ini cukup setia dan terasa 1 banding 1 dengan animenya.

Optimisasi PC Low-End yang Kurang Bersahabat
Sayangnya, tidak semua berjalan mulus.
Saat diuji menggunakan Steam Deck, performanya cukup mengkhawatirkan. Frame rate bisa turun hingga 11 FPS saat pertarungan berlangsung. Bahkan setelah mencoba berbagai tweak, performa tetap tidak stabil.
Ini cukup mengejutkan mengingat seri sebelumnya seperti My Hero One Justice bisa berjalan lancar di perangkat dengan spesifikasi rendah, bahkan laptop tanpa VGA dedicated. Namun, di PC dengan RTX 3060, game ini berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Kesimpulannya, game ini membutuhkan perangkat yang cukup mumpuni untuk mendapatkan pengalaman optimal. Untuk pengguna low-end, mungkin lebih baik menunggu patch optimisasi.

Fighting Mechanics yang Ramah Pemula tapi Tetap Dalam
Sebagai game fighting, mekaniknya bisa dibilang easy to learn, hard to master.
Game ini menyediakan mode otomatis yang memungkinkan pemain melakukan auto combo dan bahkan auto ultimate hanya dengan mashing tombol. Fitur ini membuat pemain baru bisa langsung menikmati pertarungan tanpa harus menghafal input rumit.
Namun, di balik kesederhanaannya, tetap ada elemen timing, counter attack, dan break defense yang memberikan kedalaman strategi. Bahkan melawan bot level rendah pun bisa terasa sulit jika tidak memahami timing dan interrupt dengan benar.
Sistem 3 vs 3 di seri ini juga terasa lebih matang. Pergantian karakter untuk melanjutkan combo terasa lebih halus dan sinergis dibanding seri sebelumnya.
Sayangnya, satu hal yang terasa kurang adalah Ultimate Skill. Setiap karakter hanya memiliki satu ultimate, dan di story mode damage-nya terasa kurang signifikan. Animasi memang keren, tetapi impact-nya kurang terasa sebagai kartu as terakhir. Ini menjadi salah satu kekurangan yang cukup terasa.
Kesimpulan – Fanservice Maksimal dengan Beberapa Catatan
Secara keseluruhan, My Hero All Justice adalah paket fanservice yang sangat kuat untuk penggemar My Hero Academia. Adaptasi cerita yang setia, voice acting yang solid, serta mekanik fighting yang variatif membuat pengalaman bermain terasa imersif.
Game ini cocok untuk:
• Fans berat My Hero Academia
• Pemain kasual yang ingin menikmati combo otomatis
• Pemain hardcore yang ingin mendalami sistem manual
Namun, kekurangannya juga tidak bisa diabaikan:
• Ultimate skill kurang memuaskan
• Optimisasi kurang ramah untuk PC low-end
Jika kamu penggemar franchise ini dan memiliki perangkat yang cukup kuat, game ini layak masuk library kamu. Tapi jika kamu mengharapkan game fighting revolusioner dengan performa ringan, mungkin ada baiknya mempertimbangkan ulang atau menunggu pembaruan selanjutnya. Buat teman teman yang mau nyoba langsung ajh ke halaman steamnya di

