• Home
  • Review
  • Review My Hero All Justice – Penutup yang Layak atau Sekadar Fanservice?

Review My Hero All Justice – Penutup yang Layak atau Sekadar Fanservice?

SHARE ARTIKEL INI


Franchise My Hero Academia memang bukan nama kecil di industri hiburan. Dengan penjualan manga yang menembus lebih dari 100 juta kopi di seluruh dunia serta adaptasi anime yang mendunia, seri ini sudah menjadi fenomena global. Dunia yang dipenuhi manusia dengan kekuatan super bernama Quirk serta profesi Pro Hero yang dielu-elukan publik menjadi daya tarik utama ceritanya.

Kisah tentang Izuku Midoriya, seorang anak quirkless yang bercita-cita menjadi Pahlawan Nomor 1, membawa premis zero to hero yang kuat dan emosional. Dengan season final yang menjadi penutup perjalanan panjang tersebut, adaptasi game terbarunya, My Hero All Justice, seharusnya menjadi klimaks yang megah. Tapi pertanyaannya, apakah game ini benar-benar menjadi penutup yang pantas?


Adaptasi Cerita yang Solid dan Penuh Fanservice

My Hero All Justice langsung mengadaptasi pertarungan final melawan Shigaraki dan All For One. Menariknya, game ini tidak memberikan recap panjang di awal. Begitu masuk ke permainan, pemain langsung disuguhi pertarungan besar yang menjadi semacam taste test untuk gameplay dan visualnya.

Pendekatan ini cukup efektif sebagai hook. Kita langsung dilempar ke momen klimaks tanpa basa-basi.

Dari sisi penyampaian cerita, pengalaman bermain terasa seperti menonton animenya secara langsung. Cutscene menggunakan gaya slideshow animasi dengan potongan gambar bergerak, dipadukan dengan voice acting yang tetap terasa kuat. Pada momen-momen penting, disisipkan CG yang cukup impresif dan sinematik.

Menariknya lagi, beberapa bagian yang di anime hanya berupa recap kini dibuat playable. Contohnya bagian Lady Nagant yang bisa langsung kita mainkan. Bahkan story dari season awal, seperti penyerangan Nomu, juga tersedia sebagai konten tambahan. Dari sisi adaptasi cerita, game ini cukup setia dan terasa 1 banding 1 dengan animenya.


Optimisasi PC Low-End yang Kurang Bersahabat

Sayangnya, tidak semua berjalan mulus.

Saat diuji menggunakan Steam Deck, performanya cukup mengkhawatirkan. Frame rate bisa turun hingga 11 FPS saat pertarungan berlangsung. Bahkan setelah mencoba berbagai tweak, performa tetap tidak stabil.

Ini cukup mengejutkan mengingat seri sebelumnya seperti My Hero One Justice bisa berjalan lancar di perangkat dengan spesifikasi rendah, bahkan laptop tanpa VGA dedicated. Namun, di PC dengan RTX 3060, game ini berjalan lancar tanpa kendala berarti.

Kesimpulannya, game ini membutuhkan perangkat yang cukup mumpuni untuk mendapatkan pengalaman optimal. Untuk pengguna low-end, mungkin lebih baik menunggu patch optimisasi.


Fighting Mechanics yang Ramah Pemula tapi Tetap Dalam

Sebagai game fighting, mekaniknya bisa dibilang easy to learn, hard to master.

Game ini menyediakan mode otomatis yang memungkinkan pemain melakukan auto combo dan bahkan auto ultimate hanya dengan mashing tombol. Fitur ini membuat pemain baru bisa langsung menikmati pertarungan tanpa harus menghafal input rumit.

Namun, di balik kesederhanaannya, tetap ada elemen timing, counter attack, dan break defense yang memberikan kedalaman strategi. Bahkan melawan bot level rendah pun bisa terasa sulit jika tidak memahami timing dan interrupt dengan benar.

Sistem 3 vs 3 di seri ini juga terasa lebih matang. Pergantian karakter untuk melanjutkan combo terasa lebih halus dan sinergis dibanding seri sebelumnya.

Sayangnya, satu hal yang terasa kurang adalah Ultimate Skill. Setiap karakter hanya memiliki satu ultimate, dan di story mode damage-nya terasa kurang signifikan. Animasi memang keren, tetapi impact-nya kurang terasa sebagai kartu as terakhir. Ini menjadi salah satu kekurangan yang cukup terasa.

Kesimpulan – Fanservice Maksimal dengan Beberapa Catatan

Secara keseluruhan, My Hero All Justice adalah paket fanservice yang sangat kuat untuk penggemar My Hero Academia. Adaptasi cerita yang setia, voice acting yang solid, serta mekanik fighting yang variatif membuat pengalaman bermain terasa imersif.

Game ini cocok untuk:
• Fans berat My Hero Academia
• Pemain kasual yang ingin menikmati combo otomatis
• Pemain hardcore yang ingin mendalami sistem manual

Namun, kekurangannya juga tidak bisa diabaikan:
• Ultimate skill kurang memuaskan
• Optimisasi kurang ramah untuk PC low-end

Jika kamu penggemar franchise ini dan memiliki perangkat yang cukup kuat, game ini layak masuk library kamu. Tapi jika kamu mengharapkan game fighting revolusioner dengan performa ringan, mungkin ada baiknya mempertimbangkan ulang atau menunggu pembaruan selanjutnya. Buat teman teman yang mau nyoba langsung ajh ke halaman steamnya di

Previous
5 Game untuk Ngabuburit Yang Bikin Lupa Waktu
Next
Review Resident Evil: Survival Unit – Aib Terbesar Franchise atau Sekadar Salah Genre?

OUR SOCIAL MEDIA

Featured Article

LATEST ARTICLE

thumbnail2
Update Terbaru Honkai Star Rail 4.4 Rilis 15 Juli 2026, Hadirkan Himeko Nova dan Kolaborasi Fate/stay night Phase 2
thumbnail2
Tiket Konser Wuthering Waves Sold Out di Banyak Negara, Tur “To the New World” Lanjut ke Los Angeles
thumbnail2
Moonlit Orchard, Game Farming Sim Lokal dari Surabaya yang Gabungkan Sihir dan Dunia Mitologi
NVIDIA Diam-Diam Jual Lagi GeForce RTX 3060, Harganya Justru Lebih Mahal dari Saat Rilis
NVIDIA Diam-Diam Jual Lagi GeForce RTX 3060, Harganya Justru Lebih Mahal dari Saat Rilis
Tidak Akan Ada Baldur's Gate 4? Tak Mau Dibayangi Kesuksesan Baldur's Gate 3 Larian Studios
Tidak Akan Ada Baldur's Gate 4? Tak Mau Dibayangi Kesuksesan Baldur's Gate 3 Larian Studios

TRENDING ARTICLE

thumbnail2
Kontroversi Valko Love and Deepspace Memanas, Papergames Dikritik karena Dianggap Abaikan Pemain Lama
thumbnail2
Project GT, Game “Waifu Mobil” dari Tim Berpengalaman di miHoYo hingga Tencent, Tembus Target Kickstarter
thumbnail2
Love and Deepspace Batalkan Valko, Developer Minta Maaf ke Pemain
Harga GTA VI di Indonesia! Sudah Bisa Pre-Order!
Harga GTA VI Indonesia, Sudah Bisa Pre-Order Sekarang!
Kabar Terbaru Final Fantasy Resonance, Bawa Kisah Brave Exvius ke Format HD-2D untuk Konsol dan PC
Kabar Terbaru Final Fantasy Resonance, Bawa Kisah Brave Exvius ke Format HD-2D untuk Konsol dan PC
Review The Adventures of Elliot: The Millennium Tales Indonesia, Indah Tapi Terkesan Repetitif
thumbnail2
Review Pragmata: Eksperimen Berani Tapi Kurang Memuaskan?
Review Flydigi Direwolf 4: Controller Budget Alternatif Apex 5
Review Flydigi Apex 5: Controller Terbaik Buat Kalian Yang Punya Budget!
Kuloniku thumbnail