Aurora Gaming akhirnya memutus dahaga gelar dengan menjuarai FISSURE Universe: Episode 8 setelah menumbangkan raksasa Team Spirit dengan skor tipis 3-2 (01/02/2026). Namun, kemenangan ini terasa “pahit-manis” bagi komunitas Dota 2 Indonesia. Di satu sisi, kita merayakan trofi perdana Aurora, namun di sisi lain, muncul sebuah tanda tanya besar: di mana posisi Mikoto dalam kesuksesan ini?
Sebelum kemenangan ini diraih, permainan Aurora Gaming dilihat seolah bagai kehilangan identitas. Pergantian roster yang berulang kali dalam kurun waktu yang cenderung singkat membuat fans jenuh, dan kedatangan Rafli “Mikoto” Fathur awalnya dianggap sebagai oase di tengah gurun. Namun, ekspektasi tinggi itu sempat berbuah pahit. Gameplay tim yang biasanya agresif mendadak tumpul, memicu keraguan apakah “Indopride” kita benar-benar kepingan yang selama ini dicari Aurora.
Ironi tersebut memuncak di turnamen FISSURE Universe kemarin. Saat Mikoto terpaksa tidak dapat bermain demi urusan visa, Aurora yang bermain dengan lorenof sebagai stand-in justru tampil membara. Mereka bermain dengan sinergi yang selama ini dirindukan fans. Keberhasilan lorenof menaklukkan Team Spirit seolah menciptakan standar baru yang sangat tinggi—sebuah bayang-bayang besar yang kini harus dihadapi Mikoto saat ia kembali ke kursi roster utama.
Kini, beban di pundak Mikoto bukan lagi sekadar memenangkan lane, melainkan membuktikan bahwa Aurora tidak “lebih baik tanpa dirinya.” Komunitas kini terbelah antara optimisme melihat performa tim yang sedang memuncak, dan kecemasan apakah kembalinya Mikoto akan merusak ritme yang sudah terbentuk.
Per 4 Februari 2026, Dreamleague Division 2 Season 3 menjadi panggung pembuktian paling krusial dalam karier Mikoto di tim Aurora. Ini bukan lagi soal turnamen biasa, ini adalah ujian mental untuk membungkam keraguan dan membuktikan bahwa sang MVP Riyadh Master masih dalam puncak performanya.