Underboard Media — Di tengah konflik panjang dengan publisher, Hound13 mengambil langkah drastis untuk menyelamatkan proyek ambisius mereka. Game Dragon Sword yang sebelumnya dirancang sebagai live service berbasis gacha kini resmi dialihkan menjadi game standalone berbayar dan akan dirilis di Steam.
Keputusan ini bukan sekadar perubahan strategi, tetapi bisa dibilang sebagai upaya terakhir untuk menjaga proyek ini tetap hidup.
Table of Contents
Konflik dengan Webzen Jadi Titik Balik
Masalah bermula dari sengketa kontrak antara Hound13 dan Webzen yang sudah berlangsung sejak awal tahun. Hound13 memutuskan untuk mengakhiri kerja sama setelah pembayaran sisa Minimum Guarantee senilai miliaran won tidak dipenuhi tepat waktu.
Meski pembayaran sempat dilakukan belakangan, negosiasi antara kedua pihak tidak menemukan titik temu.
Situasi ini akhirnya memaksa Hound13 untuk:
- Mengambil jalur self publishing
- Menghentikan model distribusi lama
- Mengubah arah proyek secara signifikan
CEO Hound13 bahkan menyebut proyek ini sebagai “kesempatan terakhir” bagi tim yang tersisa.
Dari Gacha ke Game Premium Sekali Bayar

Perubahan terbesar dari Dragon Sword ada pada model bisnisnya.
Jika sebelumnya dirancang sebagai game mobile dengan sistem gacha, kini game ini akan menjadi:
- Game berbayar satu kali di Steam
- Tanpa microtransaction tambahan
- Semua karakter dan konten bisa didapat melalui progres permainan
Artinya, pemain tidak lagi harus bergantung pada sistem RNG atau pembelian tambahan untuk menikmati keseluruhan konten.
Langkah ini bisa dibilang cukup berani di tengah tren industri yang masih didominasi model live service.
Tetap Open World Action RPG, Fokus ke Kualitas Gameplay

Meski model bisnis berubah, identitas utama game tetap dipertahankan.
Dragon Sword masih akan hadir sebagai:
- Open world action RPG
- Fokus pada combat yang intens
- Cerita bergaya petualangan klasik
Berdasarkan pengalaman awal yang sempat dirasakan pemain sebelumnya, game ini dikenal memiliki:
- Sistem pertarungan yang solid
- Desain karakter yang kuat
- Dunia yang cukup imersif
Perubahan ke format standalone justru dinilai bisa membuat pengalaman bermain lebih fokus dan padat.
Target Rilis Global di Steam Tahun Ini
Hound13 menargetkan perilisan Dragon Sword pada Juli atau Agustus 2026.
Beberapa rencana yang sudah dikonfirmasi:
- Halaman Steam akan dibuka dalam waktu dekat
- Mendukung 4 bahasa utama
- Rilis global tanpa pembatasan server
Dengan platform Steam, game ini secara langsung akan menyasar pasar global tanpa harus melalui distribusi regional yang kompleks.
Harga yang Lebih Terjangkau Jadi Strategi
Hound13 juga menegaskan bahwa game ini akan dirilis dengan harga yang “terjangkau” untuk menarik lebih banyak pemain.
Strategi ini cukup masuk akal, mengingat:
- Brand awareness game sempat tertahan
- Perubahan model bisnis perlu adaptasi pasar
- Kompetisi di platform Steam sangat ketat
Harga akan menjadi faktor penting untuk menentukan apakah game ini bisa mendapatkan momentum baru.
Pengembangan di Tengah Kondisi Tim yang Menyusut
Di balik semua rencana ini, ada realita yang tidak bisa diabaikan.
Jumlah tim Hound13 yang sebelumnya mencapai sekitar 160 orang kini tersisa sekitar 50 orang setelah restrukturisasi besar.
Saat ini mereka berada dalam fase pengembangan intensif hingga awal Mei untuk mengejar target rilis.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar:
- Apakah tim yang tersisa cukup untuk menyelesaikan game dengan kualitas tinggi
- Seberapa lengkap konten yang sudah disiapkan sebelumnya
- Apakah transisi dari live service ke standalone bisa dilakukan dengan mulus
Kesimpulan
Keputusan Hound13 mengubah Dragon Sword dari game gacha menjadi game standalone di Steam adalah langkah berani yang jarang terjadi di industri saat ini.
Di satu sisi, ini membuka peluang baru untuk menghadirkan pengalaman yang lebih lengkap tanpa tekanan monetisasi. Di sisi lain, keterbatasan waktu dan sumber daya menjadi tantangan besar yang harus dihadapi.
Jika berhasil dieksekusi dengan baik, Dragon Sword bisa menjadi contoh menarik bagaimana sebuah game yang hampir “hilang arah” justru menemukan bentuk terbaiknya di jalur yang berbeda.