Underboard Media — Kesuksesan Neverness to Everness ternyata memunculkan diskusi yang cukup panas di industri game Jepang. Bukan cuma soal angka penjualan atau hype launch, tapi pertanyaan yang lebih besar:
“Kenapa game anime open-world skala besar seperti ini justru lahir dari China, bukan Jepang?“
Diskusi ini datang dari artikel panjang yang ditulis oleh Ukyo, seorang developer game Jepang sekaligus penulis yang aktif membahas desain game dan struktur industri game modern melalui blog pribadinya.
Dalam tulisannya, Ukyo mencoba membedah kenapa game seperti NTE bisa lahir di China dan kenapa Jepang justru kesulitan mengejar model produksi seperti itu.
Table of Contents
NTE Disebut Bukan “Keberuntungan”, Tapi Hasil Evolusi Industri China

Menurut Ukyo, NTE bukan proyek yang muncul secara tiba-tiba.
Ia menyebut game ini sebagai hasil evolusi panjang dari:
- budaya MMO online China
- pengalaman live-service bertahun-tahun
- hingga eksperimen sebelumnya lewat Tower of Fantasy

Hotta Studio sendiri disebut sudah membangun pondasi NTE sejak era update “Mirroria City” di Tower of Fantasy, yang memperlihatkan eksperimen kota cyberpunk berskala besar.
Artinya, NTE bukan sekadar proyek ambisius biasa, melainkan hasil akumulasi pengalaman industri China selama puluhan tahun.
Jepang dan China Punya “DNA Industri” Berbeda
Ukyo juga menjelaskan bahwa perbedaan hasil antara Jepang dan China bukan cuma soal teknologi atau uang, tapi soal sejarah industri yang berbeda.
Menurutnya, China tumbuh dengan budaya:
- MMO online
- warnet
- game live-service
- model F2P jangka panjang

Sementara Jepang sejak lama berkembang lewat:
- console game
- pengalaman bermain yang tamat
- level design
- gameplay refinement

Karena itu, developer China terbiasa membangun “dunia hidup” yang terus berjalan, sedangkan Jepang lebih fokus ke pengalaman bermain yang padat dan selesai.
Perbedaan Cara Investasi Jadi Faktor Penting
Ukyo juga menyorot bagaimana studio China rela menggelontorkan resource besar untuk animasi dan presentasi karakter.
Ia bahkan mengaku pernah melihat studio China dan Korea mengerahkan:
- ratusan staff hanya untuk divisi karakter dan animasi
Karena bagi mereka:
kualitas karakter dan animasi adalah inti monetisasi game gacha modern.
Sementara di Jepang, peningkatan animasi sering dianggap sebagai biaya mahal yang sulit dihitung dampak bisnisnya.
Akibatnya, banyak studio Jepang lebih fokus ke:

- desain gameplay
- sistem permainan
- dan kualitas experience
dibanding produksi visual skala besar seperti NTE.
Blue Protocol Ikut Dibahas
Dalam artikel tersebut, Ukyo juga menyinggung Blue Protocol sebagai contoh bagaimana Jepang sebenarnya masih punya kemampuan membuat game online besar.
Namun menurutnya, kegagalan Blue Protocol lebih disebabkan oleh:

- pengembangan terlalu lama
- market berubah cepat
- feedback beta kurang ditindak serius
- dan keputusan rilis yang terlalu cepat
Berbeda dengan NTE yang disebut menjalani banyak fase testing dan revisi besar sebelum launch.
Kesimpulan
Menurut Ukyo, NTE bukan sekadar game sukses biasa, tetapi simbol perubahan besar di industri game modern.
China saat ini dianggap unggul di:
- skala produksi
- live-service
- dan pembangunan dunia open-world anime besar
Sementara Jepang masih sangat kuat di:
- desain gameplay
- pengalaman bermain
- dan game premium yang lebih “selesai”
Dan lewat NTE, perbedaan dua filosofi industri tersebut kini mulai terlihat semakin jelas.
Sumber:
Artikel analisis industri game oleh developer Jepang Ukyo terkait Neverness to Everness