• Home
  • Gaming Culture
  • Developer Jepang Mulai Akui Dominasi China di Game Anime Open-World, NTE Jadi Contoh Besarnya

Developer Jepang Mulai Akui Dominasi China di Game Anime Open-World, NTE Jadi Contoh Besarnya

SHARE ARTIKEL INI

Underboard Media — Kesuksesan Neverness to Everness ternyata memunculkan diskusi yang cukup panas di industri game Jepang. Bukan cuma soal angka penjualan atau hype launch, tapi pertanyaan yang lebih besar:

“Kenapa game anime open-world skala besar seperti ini justru lahir dari China, bukan Jepang?

Diskusi ini datang dari artikel panjang yang ditulis oleh Ukyo, seorang developer game Jepang sekaligus penulis yang aktif membahas desain game dan struktur industri game modern melalui blog pribadinya.

Dalam tulisannya, Ukyo mencoba membedah kenapa game seperti NTE bisa lahir di China dan kenapa Jepang justru kesulitan mengejar model produksi seperti itu.

NTE Disebut Bukan “Keberuntungan”, Tapi Hasil Evolusi Industri China

Dunia Dari NTE

Menurut Ukyo, NTE bukan proyek yang muncul secara tiba-tiba.

Ia menyebut game ini sebagai hasil evolusi panjang dari:

  • budaya MMO online China
  • pengalaman live-service bertahun-tahun
  • hingga eksperimen sebelumnya lewat Tower of Fantasy

SC : Akazaan Youtube

Hotta Studio sendiri disebut sudah membangun pondasi NTE sejak era update “Mirroria City” di Tower of Fantasy, yang memperlihatkan eksperimen kota cyberpunk berskala besar.

Artinya, NTE bukan sekadar proyek ambisius biasa, melainkan hasil akumulasi pengalaman industri China selama puluhan tahun.

Jepang dan China Punya “DNA Industri” Berbeda

Ukyo juga menjelaskan bahwa perbedaan hasil antara Jepang dan China bukan cuma soal teknologi atau uang, tapi soal sejarah industri yang berbeda.

Menurutnya, China tumbuh dengan budaya:

  • MMO online
  • warnet
  • game live-service
  • model F2P jangka panjang

Sementara Jepang sejak lama berkembang lewat:

  • console game
  • pengalaman bermain yang tamat
  • level design
  • gameplay refinement

Pragmata Game Terbaru Dari Capcom Developer Jepang

Karena itu, developer China terbiasa membangun “dunia hidup” yang terus berjalan, sedangkan Jepang lebih fokus ke pengalaman bermain yang padat dan selesai.

Perbedaan Cara Investasi Jadi Faktor Penting

Ukyo juga menyorot bagaimana studio China rela menggelontorkan resource besar untuk animasi dan presentasi karakter.

Ia bahkan mengaku pernah melihat studio China dan Korea mengerahkan:

  • ratusan staff hanya untuk divisi karakter dan animasi

Karena bagi mereka:

kualitas karakter dan animasi adalah inti monetisasi game gacha modern.

Sementara di Jepang, peningkatan animasi sering dianggap sebagai biaya mahal yang sulit dihitung dampak bisnisnya.

Akibatnya, banyak studio Jepang lebih fokus ke:

Persona 5 – Game Dari Atlus Jepang yang terkenal dengan UI iconic
  • desain gameplay
  • sistem permainan
  • dan kualitas experience

dibanding produksi visual skala besar seperti NTE.

Blue Protocol Ikut Dibahas

Dalam artikel tersebut, Ukyo juga menyinggung Blue Protocol sebagai contoh bagaimana Jepang sebenarnya masih punya kemampuan membuat game online besar.

Namun menurutnya, kegagalan Blue Protocol lebih disebabkan oleh:

  • pengembangan terlalu lama
  • market berubah cepat
  • feedback beta kurang ditindak serius
  • dan keputusan rilis yang terlalu cepat

Berbeda dengan NTE yang disebut menjalani banyak fase testing dan revisi besar sebelum launch.

Kesimpulan

Menurut Ukyo, NTE bukan sekadar game sukses biasa, tetapi simbol perubahan besar di industri game modern.

China saat ini dianggap unggul di:

  • skala produksi
  • live-service
  • dan pembangunan dunia open-world anime besar

Sementara Jepang masih sangat kuat di:

  • desain gameplay
  • pengalaman bermain
  • dan game premium yang lebih “selesai”

Dan lewat NTE, perbedaan dua filosofi industri tersebut kini mulai terlihat semakin jelas.

Sumber:
Artikel analisis industri game oleh developer Jepang Ukyo terkait Neverness to Everness

Previous
7 Game Mobile Baru Mei 2026 yang Wajib Dicoba, Ada Game of Thrones dan Slime Rancher
Next
Neverness to Everness Kena Kontroversi AI, Streamer Besar Batalkan Sponsorship

OUR SOCIAL MEDIA

Featured Article

LATEST ARTICLE

thumbnail2
Update Terbaru Honkai Star Rail 4.4 Rilis 15 Juli 2026, Hadirkan Himeko Nova dan Kolaborasi Fate/stay night Phase 2
thumbnail2
Tiket Konser Wuthering Waves Sold Out di Banyak Negara, Tur “To the New World” Lanjut ke Los Angeles
thumbnail2
Moonlit Orchard, Game Farming Sim Lokal dari Surabaya yang Gabungkan Sihir dan Dunia Mitologi
NVIDIA Diam-Diam Jual Lagi GeForce RTX 3060, Harganya Justru Lebih Mahal dari Saat Rilis
NVIDIA Diam-Diam Jual Lagi GeForce RTX 3060, Harganya Justru Lebih Mahal dari Saat Rilis
Tidak Akan Ada Baldur's Gate 4? Tak Mau Dibayangi Kesuksesan Baldur's Gate 3 Larian Studios
Tidak Akan Ada Baldur's Gate 4? Tak Mau Dibayangi Kesuksesan Baldur's Gate 3 Larian Studios

TRENDING ARTICLE

thumbnail2
Kontroversi Valko Love and Deepspace Memanas, Papergames Dikritik karena Dianggap Abaikan Pemain Lama
thumbnail2
Project GT, Game “Waifu Mobil” dari Tim Berpengalaman di miHoYo hingga Tencent, Tembus Target Kickstarter
thumbnail2
Love and Deepspace Batalkan Valko, Developer Minta Maaf ke Pemain
Harga GTA VI di Indonesia! Sudah Bisa Pre-Order!
Harga GTA VI Indonesia, Sudah Bisa Pre-Order Sekarang!
Kabar Terbaru Final Fantasy Resonance, Bawa Kisah Brave Exvius ke Format HD-2D untuk Konsol dan PC
Kabar Terbaru Final Fantasy Resonance, Bawa Kisah Brave Exvius ke Format HD-2D untuk Konsol dan PC
thumbnail2
thumbnail2
NVIDIA Diam-Diam Jual Lagi GeForce RTX 3060, Harganya Justru Lebih Mahal dari Saat Rilis
Tidak Akan Ada Baldur's Gate 4? Tak Mau Dibayangi Kesuksesan Baldur's Gate 3 Larian Studios
Game Paling Horror Yang Pernah Ada! Inilah Semua Hal yang Sudah Diketahui Tentang Game Horor Ambisius Hideo Kojima OD
thumbnail2