Neverness to Everness Kena Kontroversi AI, Streamer Besar Batalkan Sponsorship

SHARE ARTIKEL INI

Underboard Media — Di tengah performa awal yang sangat kuat, Neverness to Everness kini mulai menghadapi kontroversi yang cukup serius. Bukan soal gameplay atau monetisasi, melainkan dugaan penggunaan Generative AI (Gen-AI) yang dianggap tidak transparan.

Kontroversi ini bahkan menyeret nama streamer dan VTuber besar, Ironmouse, yang memutuskan membatalkan kerja sama sponsorship dengan pihak game.

Awalnya Sponsored Stream, Berakhir Jadi Drama

Seperti banyak game gacha baru lainnya, NTE memang aktif menggandeng content creator untuk promosi launch. Ironmouse termasuk salah satu streamer yang sempat bekerja sama untuk melakukan sponsored stream.

Namun situasinya berubah setelah muncul dugaan bahwa game tersebut menggunakan aset berbasis Gen-AI, meski sebelumnya pihak developer disebut mengklaim sebaliknya.

Menurut pernyataan Ironmouse, tim developer sempat menjelaskan bahwa aset dalam game dibuat secara manual oleh tim artist internal dan tidak menggunakan konten AI generatif.

Masalahnya, komunitas kemudian mulai menemukan berbagai aset di dalam game yang dianggap punya ciri khas hasil AI.

Mulai dari Poster Sampai Tayangan TV In-Game

Beberapa pemain dan pengguna media sosial mulai membagikan temuan mereka, mulai dari:

  • poster di dalam kota

  • desain visual tertentu

  • hingga animasi acara TV dalam game

Sebagian besar dianggap memiliki pola visual yang identik dengan konten hasil Gen-AI.

Yang membuat situasi semakin sensitif adalah dugaan bahwa beberapa aset tersebut juga terlihat terinspirasi dari media populer lain, memunculkan pertanyaan soal legalitas dan originalitas.

Sampai sekarang belum ada konfirmasi resmi detail dari pihak developer terkait aset mana yang dibuat manual dan mana yang melibatkan AI.

Bukan Sekadar Soal AI, Tapi Soal Transparansi

Sebenarnya penggunaan AI di industri game saat ini bukan lagi hal tabu.

Bahkan banyak developer mulai memanfaatkan AI untuk:

  • efisiensi produksi
  • asset prototyping
  • voice processing
  • hingga workflow internal

Masalah utama dalam kasus NTE justru lebih mengarah ke soal transparansi.

Karena sebelumnya, produser NTE, Yang Lei, sempat menyatakan dalam wawancara bahwa aset-aset di game tersebut merupakan hasil karya tim internal tanpa bantuan AI generatif.

Ketika pemain mulai menemukan indikasi berbeda di dalam game, reaksi negatif pun mulai muncul.

Launch Tetap Kuat, Tapi Bayangan Kontroversi Mulai Muncul

Yang menarik, kontroversi ini muncul hanya beberapa hari setelah NTE mencatat performa launch yang sangat besar.

Game tersebut sebelumnya dilaporkan menghasilkan:

  • lebih dari 100 juta RM atau sekitar Rp238 miliar dalam hari pertama rilis global.

Namun seperti banyak game live-service lainnya, performa launch besar tidak selalu menjamin kondisi komunitas tetap stabil.

Dan untuk game yang sangat mengandalkan estetika visual seperti NTE, isu soal AI bisa menjadi topik yang cukup sensitif.

Kesimpulan

Kasus Neverness to Everness ini menunjukkan satu hal penting di industri game modern:
penggunaan AI mungkin mulai diterima, tetapi transparansi tetap jadi isu utama.

Banyak pemain sebenarnya tidak mempermasalahkan AI sebagai alat bantu. Namun ketika developer dianggap tidak jujur atau mencoba menyembunyikan penggunaannya, reaksi komunitas bisa berubah cepat.

Untuk sekarang, kontroversi ini mungkin belum cukup besar untuk mengguncang performa NTE secara langsung.

Tapi jika komunikasi dari pihak developer tidak segera jelas, isu seperti ini bisa terus membesar—terutama di komunitas global yang memang cukup sensitif terhadap penggunaan Gen-AI dalam karya kreatif.

Previous
Developer Jepang Mulai Akui Dominasi China di Game Anime Open-World, NTE Jadi Contoh Besarnya
Next
Ash Echoes Global Resmi Tutup Layanan Juni 2026, Pemain Bisa Transfer Pembelian ke Game Lain

OUR SOCIAL MEDIA

Featured Article

LATEST ARTICLE

thumbnail2
Honkai Nexus Anima Buka Rekrutmen Evolution Test, CBT Dimulai 9 Juli
thumbnail2
Suikoden STAR LEAP Rilis Lebih Dulu di Jepang, Versi Global Menyusul Setelahnya
AYO BAYAR PAJAK! Bayar Pajak di Bisa Dapat Item Final Fantasy XIV, TAPI DI JEPANG DOANG, Shibuya Beri Reward Kosmetik untuk Pemain
AYO BAYAR PAJAK! Bayar Pajak di Bisa Dapat Item Final Fantasy XIV, TAPI DI JEPANG DOANG, Shibuya Beri Reward Kosmetik untuk Pemain
Masa Depan Nagoshi Studio Makin Tidak Jelas, Sejumlah Developer Pindah ke Capcom hingga LightSpeed Japan
Masa Depan Nagoshi Studio Makin Tidak Jelas, Sejumlah Developer Pindah ke Capcom hingga LightSpeed Japan
Kreator Resident Evil Blak-blakan Soal Streamer: "Kalau Cuma Ditonton Sudah Cukup, Berarti Gamenya Kurang Bagus"
Kreator Resident Evil Blak-blakan Soal Streamer: "Kalau Cuma Ditonton Sudah Cukup, Berarti Gamenya Kurang Bagus"

TRENDING ARTICLE

thumbnail2
Project GT, Game “Waifu Mobil” dari Tim Berpengalaman di miHoYo hingga Tencent, Tembus Target Kickstarter
thumbnail2
HoYoverse Menang Kasus Fitnah di China, Content Creator Dihukum Bayar Rp1,33 Miliar dan Minta Maaf Publik
thumbnail2
Kong Studios Umumkan Guardian Maiden, RPG Pixel Art Baru dari Developer Guardian Tales
thumbnail2
Tier List Star Savior Indonesia Terbaru (PvE, PvP & Arcana)
thumbnail2
Star Savior Wiki & Guide Lengkap Indonesia (Tier List, Reroll, Build, dan Review Maret 2026)
thumbnail2
thumbnail2
AYO BAYAR PAJAK! Bayar Pajak di Bisa Dapat Item Final Fantasy XIV, TAPI DI JEPANG DOANG, Shibuya Beri Reward Kosmetik untuk Pemain
Masa Depan Nagoshi Studio Makin Tidak Jelas, Sejumlah Developer Pindah ke Capcom hingga LightSpeed Japan
Kreator Resident Evil Blak-blakan Soal Streamer: "Kalau Cuma Ditonton Sudah Cukup, Berarti Gamenya Kurang Bagus"
Digimon Story: Time Stranger Dapat Update Gratis, Hadirkan Terriermon Assistant dan Graphics Mode