• Home
  • Game
  • Review Code Vein 2 Indonesia: Ide Menarik yang terkesan kurang dimaksimalkan!
Code Vein 2 Review: Ide Menarik yang terkesan kurang di Maksimalkan!

Review Code Vein 2 Indonesia: Ide Menarik yang terkesan kurang dimaksimalkan!

SHARE ARTIKEL INI

Code Vein 2 Terjebak di Antara Ide Besar dan Eksekusi Setengah Jadi

Setelah puluhan jam bermain, kesan terbesar yang menempel dikepala atmin terhadap Code Vein 2 adalah: game ini punya banyak ide bagus, tapi jarang benar-benar dieksekusi dengan konsisten. Ada beberapa momen yang bikin atmin berhenti dan berpikir, “Oke, ini menarik,” tapi terlalu sering juga momen itu dipatahkan oleh desain yang terasa kasar, tidak rapi, atau terlihat kurang matang.

Sebagai sekuel dari Code Vein (2019), ekspektasi atmin sebenarnya tidak berlebihan. Game pertamanya menurutku biasa saja, tapi konsep soulslike dengan sentuhan anime masih punya ruang besar untuk di kembangkan. Apalagi Bandai Namco terlihat ingin membawa Code Vein 2 ke level berikutnya lewat pendekatan open world dan cerita time travel. Di atas kertas, ini terdengar seperti langkah yang tepat. Dalam praktiknya? Tidak sepenuhnya berhasil.

Dunia yang Lebih Luas, Tapi Tidak Lebih Dalam

Code Vein 2 kini memakai struktur open world, dan reaksi pertama atmin saat membuka peta adalah campuran antara penasaran dan sedikit khawatir. Untungnya, skalanya tidak sebesar Elden Ring, jadi masih relatif mudah dicerna. Setelah beberapa jam, ritmenya mulai terasa familiar dan tidak terlalu melelahkan untuk dijelajahi.

Keunggulan utama dunia ini bukan di eksplorasi gameplay, tapi di fungsi naratifnya. Kamu akan bolak-balik antara masa lalu dan masa kini, melihat bagaimana satu lokasi berubah drastis akibat keputusan dan tragedi di masa lalu. Efeknya memang lebih ke visual dan atmosfer ketimbang mekanik, tapi tetap berhasil memberi kesan bahwa dunia ini punya sejarah.

Salah satu contoh paling efektif ada di area Undead Forest. Melihat versi masa lalunya yang hidup lalu kembali ke versi masa kini yang mati dan dingin terasa cukup menghantui. Sayangnya, dari sisi eksplorasi murni, dunia Code Vein 2 terasa hambar. Jarang ada penemuan yang benar-benar memicu rasa ingin tahu.

Eksplorasi yang terkesan tidak fluid

Masalah lain datang dari navigasi. Motor yang kamu gunakan terasa cukup aneh, kontrolnya tidak presisi, dan mekanik gliding-nya sering berujung frustrasi karena invisible wall yang tidak masuk akal. Beberapa area terlihat bisa dijangkau, tapi ternyata tidak. kecuali lewat jalur yang “diizinkan” game.

Belum lagi soal fall damage. Ada banyak momen di mana logika visual dan hasil akhirnya tidak sinkron: jatuh sedikit tapi instant dead. Hal-hal kecil seperti ini mungkin terlihat sepele, tapi karena sering terjadi, rasanya hal ini cukup mengganggu proses eksplorasinya.

Secara visual pun kualitasnya tidak stabil. Dari kejauhan, banyak area terlihat megah, tapi saat didekati, detail teksturnya terlihat buram. Cutscene sering memuat ulang tekstur setiap kali kamera berpindah sudut, dan performa game ini juga terbilang kurang konsisten dan tidak optimal. Ini bukan masalah fatal, tapi jelas mengganggu pengalaman bermain kita.

Cerita yang Menarik, Tapi Kurang Tersampaikan

Dari segi konsep, cerita Code Vein 2 sebenarnya solid. Premis memperbaiki dunia yang hancur dengan mengubah titik-titik penting di masa lalu punya potensi besar. Beberapa karakter utama juga cukup menarik, Lou misalnya, terasa emosional dan punya peran penting sebagai penggerak cerita. Dan dari tiga pahlawan masa lalu, Holly adalah karakter yang paling berhasil meninggalkan kesan berkat konflik personalnya yang tragis.

Masalahnya bukan di idenya, tapi cara ceritanya disampaikan. Banyak momen penting hanya hadir dalam bentuk adegan mimpi abstrak dengan dialog samar dan karakter yang muncul secara statis. Sulit merasakan urgensi atau emosi yang seharusnya muncul dari situasi besar yang sedang terjadi.

Akibatnya, konflik utama antara revenant dan manusia terasa dangkal. Dunia yang katanya berada di ambang kehancuran ini tidak pernah benar-benar terasa. Bahkan saat game mencoba menarik emosi di bagian akhir, atmin sudah terlanjur kurang terikat secara emosional.

Combat Yang Terasa Kurang Balance

Sebagai soulslike, combat adalah fondasi utama Code Vein 2. Di titik tertentu, game ini bisa terasa sangat memuaskan. Ada beberapa boss dengan desain mekanik yang menuntut kita untuk sangat fokus, membaca pola serangan, dan memanfaatkan celah sempit, dan saat berhasil mengalahkannya, rasanya benar-benar memuaskan.

Namun sayangnya, ini bukan standar yang konsisten. Banyak boss lain terasa terlalu mudah atau justru menyebalkan. Hitbox yang aneh, kamera yang kacau saat melawan musuh besar, invincibility frame yang terasa kurang sinkron, hingga mekanik yang kadang tidak berjalan sesuai aturannya sendiri, semua ini membuat sebagian kematian terasa tidak adil.

Sistem Blood Code sebenarnya cukup fleksibel dan menarik. Kita bisa mengganti build kapan saja, menyesuaikan gaya bermain tanpa harus memulai ulang karakter. Awalnya memang terasa ribet, tapi setelah dipahami, sistem ini justru jadi salah satu kekuatan Code Vein 2. Sayangnya, desain dungeon dan variasi musuh jarang memberi tantangan yang cukup untuk benar-benar memaksa pemain memaksimalkan sistem ini.

Dan juga dungeon terasa repetitif, musuh biasa terlalu mudah, dan boss sering terkesan didaur ulang. Ada beberapa versi boss remix di side content yang benar-benar seru, tapi jumlahnya terlalu sedikit untuk menopang durasi game yang panjang.

Kesimpulan

Code Vein 2 bukan game yang buruk, tapi juga jauh dari kata memuaskan. Ia berkali-kali menunjukkan potensinya, baik lewat konsep time travel, desain karakter, maupun sistem build yang fleksibel, namun hampir selalu gagal mempertahankan momentum yang sudah dibangun.

Sejujurnya atmin masih ingin melihat Code Vein berkembang sebagai sebuah franchise. Tapi untuk saat ini, Code Vein 2 terasa seperti langkah maju yang serba tanggung, lebih berani dari pendahulunya, tapi belum cukup tajam untuk benar-benar bersinar.

Setelah puluhan jam bermain, kesan terbesar atmin terhadap Code Vein 2 adalah: game ini memiliki banyak potensi, tapi sayang tidak dieksekusi dengan maksimal. Sebagai sekuel dari Code Vein (2019), ekspektasi atmin sebenarnya tidak berlebihan. Game pertamanya memang biasa saja, tapi konsep soulslike dengan sentuhan anime masih punya ruang besar untuk berkembang. Apalagi Bandai Namco terlihat ingin membawa Code Vein 2 ke level berikutnya lewat pendekatan open world dan cerita time travel. Di atas kertas, ini terdengar seperti langkah yang tepat. Tapi dalam praktiknya? Tidak selalu berhasil.

Previous
POCO Indonesia resmi meluncurkan POCO F8 Series sebagai The True Flagship!
Next
Tim Dota 2 Aurora Gaming Tampil Lebih Baik tanpa Mikoto?

OUR SOCIAL MEDIA

Featured Article

LATEST ARTICLE

Anime Sekiro: No Defeat Pamer Trailer Baru, Siap Tayang di 2026
Anime Sekiro: No Defeat Pamer Trailer Baru, Siap Tayang di 2026
Digimon Story: Time Stranger Siapkan DLC Besar, Tambah Cerita hingga Puluhan Digimon Baru
Digimon Story: Time Stranger Siapkan DLC Besar, Tambah Cerita hingga Puluhan Digimon Baru
Event Xbox Terbaru! Partner Preview Digelar 26 Maret, Siap Pamer Game Baru!
Event Xbox Terbaru! Partner Preview Digelar 26 Maret, Siap Pamer Game Baru!
Tekken 8 Dapat Kritik Pedas! Developer Siapkan Update Patch Season 3
Tekken 8 Dapat Kritik Pedas! Developer Siapkan Update Patch Season 3
thumbnail2
Ragnarok Origin Classic Resmi Rilis 26 Maret 2026, Bawa Sistem Tanpa Pay-to-Win?

TRENDING ARTICLE

thumbnail2
Tier List Star Savior Indonesia Terbaru (PvE, PvP & Arcana)
thumbnail2
Star Savior Wiki & Guide Lengkap Indonesia (Tier List, Reroll, Build, dan Review Maret 2026)
thumbnail2
Cara Reroll Star Savior Indonesia: Panduan Lengkap + Target Terbaik (Maret 2026)
thumbnail2
Game Mobile Terbaru Maret 2026 yang Wajib Dicoba di Android dan iOS
5 Game PC Terbaik, Kalian Wajib Coba! Awas PC Kalian Gak Sanggup!
5 Game PC Terbaik, Kalian Wajib Coba! Awas PC Kalian Gak Sanggup!
Digimon Story: Time Stranger Siapkan DLC Besar, Tambah Cerita hingga Puluhan Digimon Baru
Tekken 8 Dapat Kritik Pedas! Developer Siapkan Update Patch Season 3
Update Terbaru Neverness to Everness, Hadir Di PS5, dan Kenalkan Karakter Baru Jiuyuan
Update Terbaru Dota 2, Patch 7.41 Hapus Facet dan Tambahkan 9 Item Baru
Crimson Desert Sukses Besar! Tembus 3 Juta Copy dalam 5 Hari!
thumbnail2