Arknights: Endfield adalah salah satu game paling aneh dalam arti positif yang rilis beberapa hari lalu. Di saat mayoritas game mobile berlomba-lomba jualan combat cepat, gacha agresif, dan auto-play, Endfield malah datang dengan identitas yang beda total: RPG semi-open world dengan sistem simulasi pabrik yang serius banget.
Secara kualitas produksi, game ini jelas terasa seperti game premium. Visualnya rapi, animasinya halus, musiknya mahal, dan dunianya terasa “hidup”. Tapi di sisi lain, Endfield juga bukan game untuk semua orang. Fokus utamanya bukan adu mekanik combat atau hack and slash nonstop, melainkan kreativitas pemain dalam membangun sistem produksi dan infrastruktur yang efisien.
Kalau kamu datang cuma buat cari action, ada kemungkinan kamu bakal cepat bosan.
Hal-Hal yang Disukai
1. Sistem Pabrik yang Jadi Nilai Jual Utama
Kalau ada satu hal yang bikin Arknights: Endfield beda dari RPG lain, itu adalah sistem pabriknya.
Di sini kamu bukan cuma bunuh monster dan naik level. Kamu membangun jaringan produksi otomatis:
- Menambang sumber daya
- Mengolah material
- Menarik kabel listrik antar area
- Mengatur alur distribusi seperti game simulasi manajemen
Yang bikin makin menarik, game ini menyediakan fitur blueprint, jadi kamu bisa meniru desain pabrik milik pemain lain. Ini bikin Endfield punya komunitas kreator sistem, bukan cuma pemain DPS.

2. Eksplorasi yang Menghargai Rasa Penasaran
Dunia Endfield itu padat isi. Hampir tiap area punya puzzle, resource langka, atau rahasia kecil.
Uniknya, lingkungan di game ini berubah seiring progres cerita. Area yang awalnya rusak, hancur, atau penuh bahaya bisa jadi lebih aman dan tertata setelah kamu berkembang. Efek ini bikin eksplorasi terasa punya dampak, bukan sekadar jalan-jalan kosong.

3. Audio & Visual Kelas Premium
Untuk ukuran game gratis, kualitas audio dan visual Endfield kelewat niat.
- Model karakter detail
- Lingkungan luas tapi tetap stabil
- Soundtrack sinematik yang bikin eksplorasi lebih imersif
Di PC, performanya terasa ringan. Di HP, visualnya masih terlihat bagus—meskipun dengan catatan tertentu (yang bakal dibahas di bagian kekurangan).

4. Mekanik Combat yang Punya Twist Unik
Combat Endfield memang bukan yang tercepat, tapi punya satu gimmick keren:
kamu bisa membangun tower pertahanan di tengah pertempuran.
Dengan menarik kabel listrik dari tiang terdekat, kamu bisa mengaktifkan struktur pertahanan untuk membantu menghabisi musuh. Ini bikin pertempuran terasa lebih taktis dan strategis, terutama saat menghadapi musuh besar atau gelombang panjang.

Hal-Hal yang Tidak Disukai
1. Combat Bisa Terasa Repetitif
Tanpa memanfaatkan tower dan sistem pendukung, combat Endfield di mid-game bisa terasa lama dan monoton.
Masalahnya diperparah karena:
- Party sering dipakai itu-itu saja
- AI rekan tim kadang kurang responsif
- Tidak ada sistem komando detail untuk AI
Kalau kamu berharap combat seintens game action murni, Endfield bisa terasa lambat.

2. Masalah Teknis di Mobile
Ini salah satu kelemahan paling kerasa.
Di perangkat mobile bahkan flagship Endfield bisa:
- Cepat panas
- Berat untuk sesi main panjang
- Loading terasa lama saat farming
Absennya fitur seperti sweep atau double reward bikin proses grinding makin terasa melelahkan, terutama di HP.
Kesimpulan Review Arknights: Endfield

Sangat Direkomendasikan untuk:
- Pemain yang suka game building & simulasi manajemen
- Fans eksplorasi dunia yang dinamis
- Pemain yang senang mikir, ngatur sistem, dan bereksperimen
Tidak Cocok untuk:
- Pemain yang cuma cari action cepat
- Fans hack and slash murni
- Pemain mobile yang ingin game ringan dan instan
Arknights: Endfield bukan sekadar RPG.
Ini adalah game eksperimen perpaduan RPG, simulasi pabrik, dan eksplorasi dunia yang matang. Kalau klik dengan gaya mainmu, game ini bisa jadi candu. Kalau tidak, kamu bakal merasa “kok ribet amat”.
Dan itu nggak apa-apa. Karena Endfield memang tidak dibuat untuk semua orang.
Tag : Arknights Enfield, Gacha